Berikut 7 Kata Orangtua yang Berdampak Buruk Bagi Anak, Nomor 3 Menyedihkan

“Bagaimana sih, kalau naik sepeda tidak usah cepat-cepat ya, nanti jadi tidak jatuh!” ucap seorang ibu dengan nada meninggi sembari membangunkan si anak yang jatuh dari sepeda.
“Ya bu,” jawabnya singkat dengan diiringi kemerah-merahan di mata. Tampak si anak sudah mulai menahan tangis kesakitan dan nada suara dari ibu.


Cerita di atas merupakan salah satu peristiwa anak di sekitar kita. Apabila kita mencermati cerita di atas adalah ketika si anak jatuh dari sepeda, akan tetapi si anak mendapat kata-kata yang menyedihkan hatinya tanpa si ibu sadari.

Namanya juga apes, pastilah akan mengalami hal yang tidak diinginkan walaupun dengan berhati-hati sekalipun. Namun sebagai orangtua, akan mengalami kekhawatiran pada si buah hatinya. Kekhawatiran inilah yang terkadang membuat orangtua salah berucap.

Baca : http://www.infofajar.com/peringati-harlah-ipnu-ippnu-pac-kedungbanteng-adakan-futsal-cup/

Padahal ucapan tersebut berpengaruh buruk pada seorang anak. Apalagi seorang ibu, konon kata-kata ibu lebih mujarab ketimbang ucapan dari seorang ayah. Hal ini senada dengan perilaku seoarang perempuan yang lebih mengedepankan emosi ketimbang pemikiran.

Akan tetapi seorang anak cenderung lebih takut kepada seoarang ayah. Karena nada yang dikeluarkannya jauh lebih meninggi dan membuat si anak selalu mengeluarkan air mata apabila dimarahi sama ayah.

Agar tidak berpengaruh buruk terhadap anak-anak ketika orangtua sedang lalai atau kurang mengendalikan emosinya, berikut kata-kata yang harus dihindari oleh orangtua terhadap anak.

Baca : http://www.infofajar.com/ketua-ippnu-banyumas-nu-bekerja-nkri-sejahtera/

Pertama, “Kenapa sih anak ibu seperti ini?”.

Terkadang sebagai orangtua ketika melihat anaknya tidak dapat dikendalikan atau sedang berperilaku negatif, kata-kata tersebut terucap dalam dirinya. Baik disengaja ataupun tidak. Orang tua merasa heran dengan perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan norma yang ada.

Mereka merasa bahwa yang diajarinya selama ini tidak sesuai yang ia inginkan dan tidak berarti apa-apa bagi sang anak. Anak-anak semacam ini sedang membutuhkan pengakuan dari berbagai pihak. Layaknya sebagai orangtua jangan berhenti untuk mendidiknya dalam keluarga dan hindari kata-kata tersebut agar tidak keluar dari norma yang ada.

Kedua, “ini bukan urusan anak anak”.

Ketika orangtua sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan, atau sedang ada urusan antar orang dewasa, atau bahkan sedang timbul ketidak harmonisan antar orang dewasa dan si anak tiba-tiba nimbrung dan bertanya, kata-kata seperti ini sering muncul dari mulutnya.

Hal semacam ini membuat si anak merasa tidak kerasan dengan mereka. Padahal rasa keingin tahuan si anak patutlah diapresiasi. Anak semacam ini sedang mencoba mencari tahu keadaan sekitar dan sedang berlatih bersosialisasi.

Alangkah baiknya jika orangtua sedang ada urusan dan si anak tidak ingin mencampuri urusannya, gunakanlah kata-kata yang halus dan hindari kata-kata tersebut.

KARANG TARUNA KAMANDAKA 12 : HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Ketiga, “jangan seperti ayah ya”.

Sebagai orangtua pastilah tidak ingin anaknya mengalami keadaan yang serupa dengannya. Pekerjaan yang tidak mapan, penghasilan yang masih jauh dari harapan, membuat orangtua merasa bahwa anaknya harus lebih sukses darinya.

Padahal kesuksesan bukan hanya dilihat dari duniawi saja, melainkan pendidikan karakter yang diberikan orangtua merupakan subuah capaian yang patut diapresiasi pasalnya tidak semua orang memberikan pendidikan yang sama pada anaknya.

Keempat, “nanti ayah/ibu tidak sayang kamu ya.”

Betapa sedihnya jika anak mendengar kata-kata semacam ini. Padahal anak tersebut menginginkan selalu disayang oleh orangtuanya. Maksud orang tua memberikan kata-kata seperti ini rerata adalah supaya si anak menuruti keinginan orangtuanya. Maka baiknya hindari kata-kata tersebut agar si anak selalu merasa nyaman dengan orang tua.

TBM PELITA MELESTARIKAN SEJARAH BANYUMAS

Kelima, membandingkan dengan anak lain.

Keadaan seperti ini seringkali dilakukan orangtua ketika buah hatinya merasa ada yang kurang. Sebagai contoh kecil ketika anaknya sedang tidak mendapat nilai bagus, padahal anak tersebut jarang sekali belajar di rumah.

Dalam keadaan seperti ini orangtua terkadang membanding-bandingkan dengan anak lain yang lebih pintar darinya. Bila diteliti lebih dalam, peran orangtua dalam mendidik di rumah masih ada yang kurang, yaitu tidak dibimbing dan didampingi untuk belajar.

Semestinya bimbinglah anak tersebut di rumah dan hindari kata-kata tersebut.

Keenam, mengatakan dirinya bodoh.

Kata-kata seperti ini seringkali diucapkan orang tua dikala anaknya mengerjakan sesuatu tetapi tidak kunjung bisa. Terkadang mereka kebablas dalam mengatakan hal semacam ini.

Padahal sebenarnya tidak ada orang bodoh, yang ada hanya kurang dalam berusaha dan faktor keberuntungan. Oleh karena itu, hindarilah kata-kata tersebut karena sebenarnya anak-anak sedang berusaha, hanya saja masih terlalu lamban dan sedang tidak beruntung.

Ketujuh, memarahi anak bila ia jatuh.

Seperti pada kutipan cerita di atas bahwa hendaknya ketika anak terjatuh janganlah memarahinya. Karena, jatuh bukan merupakan faktor kesengajaan. Hindarilah kata-kata tersebut karena ketika terjatuh, si anak sudah menahan rasa sakit pada lukanya ditambah lagi dengan kata-kata yang terucap dari orangtuanya. Sudah tidak mungkin jika hujan deras menggenangi pipinya.

Kita perlu mengingat bahwa, setiap kata-kata adalah doa. Kata-kata yang baik akan membawa kebaikan pula pada dirinya. Dan setiap kata-kata yang kurang baik, atau berdampak buruk pada dirinya. (Fajar Pujianto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *