ARAH DAN SI JANGKUNG

Kini, Arah terbaring lemas di rumah sakit. Dia memang belum sadarkan diri. Begitu juga dengan adiknya. Hanya saja karena sang adik seorang lelaki yang mempunyai fisik yang lebih kuat, dia cepat siuman. Sementara Arah tidak demikian.

Biasanya nih, kalau di rumah sakit kan ada yang bertanggung jawab ya, buat ngurusi pengobatan dan lain sebagainya. Nah di sini, sebelum keluarga tahu akan kejadian yang dialami oleh kedua buah hatinya, siapa yang berani bertanggung jawab. Ini mengandung sebuah pertanyaan besar. Siapa sosok yang berani menanggung semua itu. Capcuz, kita lihat alinea berikutnya.

Masih teringat jelas kan ketika Arah di dalam mobil, sebelum sampai pertigaan. Dia melihat sesosok lelaki jangkung. Sedikit, memang sudah aku bocorkan siapa sosok lelaki jangkung itu kan? Kira-kira perlu di ulang nggak? Hehe. Coba deh buka sedikit saja pada bab 2 dengan judul Arah Masuk Rumah Sakit. Silahkan deh buka sedikit saja.

Sudah di buka kan?

Oke saya buka lagi. Jadi begini lelaki yang berani bertanggung jawab itu sebenarnya adalah teman akrab Arah semasa kuliah. Ya, dia seringnya dipanggil si jangkung. Jangkung ini bukan nama sebenarnya lo ya. Hanya saja dia mempunyai postur yang lebih tinggi dari teman-temannya sehingga mereka sering menyebutnya si jangkung. Perlu diketahui bahwa, dia ini adalah teman akrab Arah. Bisa dibilang teman curhat dan yaa teman seperjuangan juga. Memang si dahulu pernah mengalami suka sama suka. Akan tetapi, tahu sendiri lah, Arah orangnya bagaimana. Dia itu kan muslimah sejati. Jadi dia harus bisa menahan diri  tentang rasa cinta yang dipendamnya. Begitupun dengan si jangkung, dia tahu betul siapa Arah ini. Wanita yang alim dan rajin baca kitab dan novel juga. Mungkin novel ini juga akan dia baca ya? hehehe.

“Arah cepatlah sadar,” ucap Jangkung lirih.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/arah/

Sosok penanggung jawab ini hanya duduk di samping badan Arah. Kali ini dia bisa menatapnya dalam-dalam. Sebelumnya mana berani dia menatapnya. Toh Arah bakal memalingkan mukanya. Pernah pada suatu hari, ketika mereka meminjam buku di perpustakaan, Arah tak sengaja mengambil buku yang sama. Layaknya pada film-film di televisi, mereka pun bertatapan. Arah yang dengan sigap sadarkan diri, akhirnya memalingkan muka ke kanan. Berulang kali dia mengucapkan kata istighfar. Dia sadar bahwa dengan hanya bertatapan saja bisa membuat dosa, apalagi jika sampai yang lain. Menurut buku yang Arah baca bahwa, awal mula rasa tumbuh rerata melalui tatap mata. Namun itu bukan hanya rasa cinta, bisa jadi karena nafsu juga. Bisa jadi nanti sampai menjulur ke yang lain, kan bahaya baginya. Begitu juga dengan Jangkung, dia langsung meminta maaf kepada Arah.

Penulis : Fajar Pujianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *