Yuk! Ikuti Kelas Nulis Novel Bareng Indra Defandra

Hai Sobat Kampoeng Menulis?

Info bagus nih!

Sekolah Kampoeng Menulis kembali akan mengadakan kegiatan lhoo…

yupz kali ini adalah KELAS MENULIS NOVEL.

Bersama INDRA DEFANDRA kita akan kupas tuntas tentang menulis novel.

Siapa sih Indra Defandra?

Beliau merupakan penulis novel Cinta Naik Tangga.

Ingin tahu lebih jelas tentang beliau? Ingin belajar dan mempunyai novel? Yuk ikuti acara ini.

Indra Defandra juga akan berbagi tentang :

– Motivasi Menulis

– Tips Menulis Novel

– Kiat Menerbitkan Novel

Selain itu, anda juga akan mendapatkan BONUS paket istimewa dari kami :

  • Terapi Ikan
  • Literasi Membaca
  • Pemandangan Alam (Cocok Buat Sefie)

Acara ini akan dilaksanakan pada :
Hari : Minggu, 23 Juli 2017
Pukul : 13.00-15.00
Tempat : Balai Terapi Ikan/TPQ An-Nur

Jl. Arsantaka RT 01 RW 04 Arcawinangun – Purwokerto Timur

Biaya Pendaftaran :
Rp. 20.000,-

Pendaftaran akan ditutup pada hari Sabtu, 22 Juli 2017 pukul 12.00 WIB.

Kami juga memberikan berbagai fasilitas :
– Diskusi Menulis Novel
– Materi Hard Copy
– Sertifikat
– Dorprize
– Terapi Ikan

– Literasi Membaca

– Pemandangan Alam

 

Pendaftaran hubungi :
Fajar Pujianto 081329751684 (WA Only)

Muhammad Khayat 085869220512 (SMS/Telp)

Yuk! Saatnya menulis dan mempunyai novel hasil karya sendiri.

Present by : Sekolah Kampoeng Menulis

Support by : TBM Anfat Desa Babakan dan TPQ An-Nur Arcawinangun
Media Partner : infofajar.com

ARAH DAN SI JANGKUNG

Kini, Arah terbaring lemas di rumah sakit. Dia memang belum sadarkan diri. Begitu juga dengan adiknya. Hanya saja karena sang adik seorang lelaki yang mempunyai fisik yang lebih kuat, dia cepat siuman. Sementara Arah tidak demikian.

Biasanya nih, kalau di rumah sakit kan ada yang bertanggung jawab ya, buat ngurusi pengobatan dan lain sebagainya. Nah di sini, sebelum keluarga tahu akan kejadian yang dialami oleh kedua buah hatinya, siapa yang berani bertanggung jawab. Ini mengandung sebuah pertanyaan besar. Siapa sosok yang berani menanggung semua itu. Capcuz, kita lihat alinea berikutnya.

Masih teringat jelas kan ketika Arah di dalam mobil, sebelum sampai pertigaan. Dia melihat sesosok lelaki jangkung. Sedikit, memang sudah aku bocorkan siapa sosok lelaki jangkung itu kan? Kira-kira perlu di ulang nggak? Hehe. Coba deh buka sedikit saja pada bab 2 dengan judul Arah Masuk Rumah Sakit. Silahkan deh buka sedikit saja.

Sudah di buka kan? Continue reading “ARAH DAN SI JANGKUNG”

TEH MANIS ITU!

Roda kehidupan sangatlah cepat berputar. Waktu pun begitu mudah berlalu. Bagai tiada kenangan yang menutup pilu. Bait pertama itu, rasanya tiada goresan yang memutar balikkan sebuah nestapa.

Di bawah langit-langit itu. Di atas kayu yang kau ukir halus. Di tengah ketenangan sebuah kesunyian. Ah, rasanya baru kemarin.

Seduhan teh manis itu. “Wah..terimakasih atas teh manis ini, semanis yang membuatnya.” Tiada angin berlalu. Tiada hujan menggilir. Sungguh waktu itu membutakan aroma persaudaraan. Sebuah persaudaraan yang digalang dengan mengukir sebuah kegiatan. Dan berlalu dengan media sosial.

Sungguh, pertemuan itu semakin membuatku terperana. Ingin ku merengkuhnya dan menjadikannya seorang permaisuri di singgasana surga. Oh…belum waktunya. “Bermimpi boleh dong,” nada kecil ini menyelimuti seluruh akal sehatku.

Kamu. Ya kamu. Entah semenjak kapan perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja. Ataukah hanya pertemuan pertama. Orang-orang sering mengatakan, “cinta pada pandangan pertama.” Itu tidak ada dalam kamus besar alam bawah sadarku.

Pernah suatu ketika saat kami menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Saat itu, saya datang dengan teman-temanku. Sementara dia, datang dengan rombongan yang memang masih saudara sang manten. Saat itu saya hanya duduk di kursi tamu undangan. Suara itu, ya..suara gending yang ditabuh dengan begitu merdunya. Nyanyian itu hanya diwakili oleh sebuah piringan kecil. Kaset CD? Mungkin saja.

“Saya kayak paham siapa, duduk di situ dan ikut berfoto juga, eh ternyata kamu.”  Kata itu mengingatkanku saat menghadiri resepsi. “Memang demikian, tapi saya tidak paham kalau itu kamu,” jawabku membayangkan kejadian itu. “Saya juga sering melihatmu, tapi dalam di mana dan dalam acara apa saya lupa.” Sontak, saya menceritakan ketika masih aktif mengikuti sebuah organisasi kepemudaan. Tidak terasa, teh ini hampir habis.

Lalu, ku kecup mesra ujung cangkir yang masih perawan. Tak pernah bosan ketika membagikan kisah itu. “Ahh, mungkin itu hanya alasanku saja, biar semakin lama bersamanya”. Tidak. Tidak juga begitu. Terkadang suara detik itu berdebug kencang. Ia hanya menempel mesra di tembok berwarna hijau itu. Seolah dia menyaksikan dengan mata telanjang, dua orang yang saling bercengkerama untuk pertama kalinya.

“Berapa lama lagi kau selesai?”

“Insyaalloh, Oktober sudah harus selesai.”

“Lalu, kau mau apa setelah ini?”

“Saya akan pulang, dan inginnya sih punya usaha di rumah.”

“Menikah saja.”

“Hehehe.”

Lantunan nada indah dari angkasa terdengar merdu. Adzan. Itu menandakan waktu shalat Dzuhur sudah harus dilaksanakan. “Ayo mas shalat. Bareng ya.”     Saya beranggapan kalau kita mau berjama’ah. Dalam hati saya ingin menolaknya, namun lidah ini terlanjur mengiyakan. Usai mengambil air wudlu, kita pun berpapasan. Saya kira akan berjama’ah. Ternyata, dia masuk kamar. Itu artinya tidak ada kata berjama’ah. Syukurlah. Takutnya, kalau berjama’ah akan ada niat yang berbeda ataupun mengambil simpatik darinya. Itu berbahaya bagiku.

Kembali Bercengkerama.

Tidak dapat apa yang ku katakan. Seakan tergerus oleh waktu. Cengkerama itu menjadi semakin berkurang. Dua orang itu membawanya pada kesibukan tersendiri. Ya, dua orang tamu di luar sana. Kedua orang tuanya memang belum pulang, karena ada kegiatan di luar. Alhasil, diapun kembali harus menyeduh teh, dan menyajikan beberapa hidangan lain.

“Kluk, kluk, kluk…” suara detik jam itu tiada sekencang seperti pertama masuk rumah ini. Seakan dia terlihat lemas dan mulai membisu. Mungkin dia mulai bosan dengan kehadiranku. Atau, dia tidak berdebar lagi karena melihat sekarang saya sering duduk sendiri.

Saya pun menyadarinya. Lalu, ku pakai jacket ini yang menunggu dari tadi untuk  dipakai. “Sudah semakin sore nih, saya harus melanjutkan perjalanan.” Ah, seperti musafir saja. Ya, waktulah yang membatasi semuanya. Tapi, janganlah salahkan waktu, karena waktu tidak bersalah. Saya sih hanya berharap; semoga persaudaraan ini tidak luntur ditelan oleh waktu, dan komunikasi tetap terus terjaga sampai kau menuju singgasana kesuksesan di sana.