Yuk, Donor Darah

Banyak generasi muda saat ini yang menghabiskan waktu malam dengan berbagai kegiatan yang menuntut kesenangan semata. Berpesta, nongkrong, bermain game, bersantai, dan kesenangan lainnya.
 
Tapi berapa banyak anak muda yang menjadikan kegiatan seperti donor darah sebagai bagian dari gaya hidup mereka? Jawabannya banyak! Kamu pasti mengira hanya sedikit dari generasimu yang menjadikan kegiatan donor darah sebagai rutinitas yang biasa mereka lakukan. Kalau memang berpikir demikian, sepertinya kamu terlalu banyak bersenang-senang tanpa memikirkan kesenangan orang lain. Saatnya berubah!
 
Seseorang yang menyumbangkan darahnya tiga sampai empat kali dalam satu tahun, mampu membebaskannya dari ancaman penyakit seperti Hepatitis C, Hepatitis B, Sipilis, bahkan HIV. OKP Desa Babakan, PMI terus melakukan cara-cara kreatif untuk meningkatkan kebiasaan mendonor darah bagi generasi muda.

INILAH JURUS MEMPUNYAI KUMPULAN TTS ALA ADIK TBM ANFAT

Fajar Pujianto

TTS, singkatan dari Teka Teki Silang merupakan salah satu cara untuk mengukur seberapa pengetahuan kita. TTS ini juga dapat dijadikan sumber referensi dalam belajar. Banyak sekali kegunaan TTS, mulai dari mengetes kemampuan olah pikir sampai mengingatkan kembali pelajaran saat di bangku sekolah.

Kali ini adik di TBM Anfat berusaha mencari sumber-sumber TTS ketika dia tidak sempat mencarinya di kota. Biasanya di sekolah ada yang berjualan, akan tetapi karena masih libur sekolah, dia tidak bisa membelinya. Belum lagi semisal tidak mempunyai uang untuk membeli, hmm..harus mandiri dong. Continue reading “INILAH JURUS MEMPUNYAI KUMPULAN TTS ALA ADIK TBM ANFAT”

JUJUR DAPAT SEDULUR

Saya pernah mengalami suatu dilema ketika ban bocor, bensin tinggal sedikit, uang tidak ada, padahal tamban ban masih jauh. Saya bingung harus bagaimana. Otomatis saya harus membawanya sampai bengkel kan?

Sambil menuntun motor, di tengah perjalanan pun saya berpikir keras bagaimana caranya agar bisa pulang dengan selamat dan tanpa halangan.

Sesampainya di bengkel, ku sampaikan maksud dan tujuan. Saya pun disuruh menghadap pak bos selsaya pemilik bengkel. Lalu, ku ceritakan semuanya. Setelah itu motor milikku mulai digarap. Dan setelah selasai, saya langsung mengucakan terimakasih kepada pemilik bengkel tersebut. malahan ketika hendak pulang, saya dikasih pesangon buat berjaga-jaga di jalan kalau-kalau terjadi apa-apa.

Sampai sekarang saya tetap bersilaturrahim ke tempat beliau karena telah berjasa besar pada saya. Malahan sudah seperti saudara sendiri.

Itulah kenapa kita harus jujur, salah satunya mendatangkan sedulur [saudara].

JUJUR ITU MENYAKITKAN

Haha, itu adalah bahasa-bahasa alay ala abg. Eits, tapi tidak hanya remaja kok, terkadang kaum dewasa pun pernah mengalami hal yang sama. Lihat saja beberapa update status di media sosial J. Yang tidak saya sebut, jangan baper ya. haha.

Oke kembali lagi pada judul. Ini kembali lagi kepada memori tahun berapa saya lupa. Yang jelas kala kita sedang mengalami cinta mati. Mungkin sekitar usia-usia SMP-SMA kali ya.

Ya, kala itu sedang mencintai seseorang [ciaa..]. saya tidak memikir berulang kali. langsung saja, saya mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku yang paling dalam [hahaha]. Dan, apa yang terjadi coba?

Ternyata dia bilang gini : “maaf kamu terlalu baik, saya tidak bisa menerimamu karena saya sudah sama teman kamu.”

Mak jlebb rasanya.

Tapi lupakan, itu hanya cerita sekitar 10 tahun yang lalu. Kabar terakhir si dia sudah punya anak 2, alhamdulillah.

Ini 2017.

BOHONG YANG JUJUR

Apakah anda bingung dengan judul di atas? Haha semoga tidak demikian. Dalam diri mungkin bertanya : “maksudnya apa ini!”.

Sebenarnya tidak ada apa-apa si, kali ini saya hanya akan bercerita tentang ‘bohong yang jujur’. Mengapa demikian? Ini merupakan kisah pengalaman saya, “ciaa!” haha.

Ya, melalui pengalaman yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Kala itu saya masih jadi seorang sales dan tukang kredit.

“Mas Fajar pernah jadi sales dan tukang kredit?” semoga tidak ada yang bertanya demikian.

Saya pernah mengalaminya selama tiga tahun. Pekerjaan yang tidak mudah dan penuh dengan resiko. Memang si semua pekerjaan ada resikonya, tetapi yang ini memang lebih banyak ketimbang pekerjaan lain yang pernah saya jalani.

Ketika itu saya sedang menawarkan barang dagangan ke rumah-rumah warga. Sebagai seorang yang menawarkan barang, tentunya mulut kita tidak boleh diam dong.

“Sewu, sewu, sewu, sewu!”

“Murah, murah, murah, murah!” begitu kata-kata yang saya ucapkan sepanjang perjalanan dengan ditemani barang bawaan di jok motor bagian belakang.

Sebagai seorang sales, tukang kredit, dan sebagainya memang ditekankan supaya tidak mempuyai rasa malu terhadap sesama selagi baik. Pasalnya kalau malu-malu, siapa yang mau minat? Mungkin ada tapi tidak terlalu banyak.

Lantang saja, ketika ada segerombolan ibu-ibu yang sedang bersantai ria di depan rumah salah satu warga, saya langsung mengeluarkan kata-kata demikian.

Sayapun mengambil beberapa barang bawaanku dan menyodorkannya kepada ibu-ibu tadi.

“Ayo bu, murah-murah, seribu-seribu.”

“Ayo dong bu, ambil yang ini dapat bonus loo,” ucapku menyodorkan pakaian.

“Bonusnya apa mas?” tanya seorang ibu.

“Penjualnya.”

Semua tersenyum dan tertawa lebar.

Perbincanganpun berlanjut, ibu-ibu mulai melihat barang yang saya bawa. Saya pun membuka box [saya lebih sering mengucapnya ‘keronjot’] yang berada di jok motor paling belakang.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu.

“Seribu, murahkan?” jawabku.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu lagi.

“Yang itu dua ribu. Ayo bu diambil,” perintahku balik.

Semua mengambil barang bawaan yang saya bawa. Semua merasa senang dan bahagia. Karena bisa membawa pakaian, wajan, bantal, dan kebutuhan rumah tangga yang lain dengan harga yang sangat murah.

Kenapa begitu murahnya? Padahal itu barang masih baru loo. Penasarankan?

Begini ceritanya. Disitulah mulai ada permaian kata. Yang tadi saya ucapkan kata-kata seribu, setelah di tempat kerumunan ibu-ibu sudah ada berapa kata seribu yang saya ucapkan? Haha tidak sedikitkan. Ditambah lagi dengan kata seribu yang diucapkan bergantian, ada berapa coba. Haha, disitulah letak permainannya.

Apakah saya berbohong?

“Jadi begini bu, seribu itu dicicil setiap hari selama 28 kali. Nah yang dua ribu tadi juga sama, dicicil selama 28 kali,” jelasku kepada mereka.

Setelah dijelaskan ternyata dengan [mungkin tidak] terpaksa mereka akhirnya tetap saja mengambil.

Dengan sedikit cerita pengalaman di atas, saya mencoba agar tetap jujur walau dalam keadaan barang tidak lsaya sekalipun. Yaitu dengan pola permainan kata-kata, yang penting tidak sampai berbuat curang dan berbohong. Karena sesunggungnya berbohong itu perbuatan tercela, jujur itu perbuatan terpuji [anak TK pun tahu, hehe].

MENJADI PEMBINA EKSTRA KURIKULER KEPENULISAN

Ini tidak disangka sebelumnya. Ya, betul sekali. Tidak pernah menyangka bakal jadi seperti ini.

Seperti ini bagaimana?

Didunia kepenulisan, memang belum lama. Berawal dari bulan November tahun lalu. Ketika itu saya belajar jurnalistik. Saya belajar membuat sebuah berita pada seseorang melalui inbok pada akun media sosial, facebook.  Dari pembelajaran yang singkat itu, saya coba berlatih melalui kegiatan yang saya ikuti dan mencoba meliputnya.

Dari liputan itu saya coba kirim ke media massa, dan tulisan pertamaku diterima di sebuah media massa radio dan online. Senengnya luar biasa ketika itu. Berikutnya semakin semangat membuat berita kegiatan, diterima lagi di media massa, bertambah ke media cetak. Sampai akhirnya setiap kali ada kegiatan yang diikuti, saya tulis.

Pernah dipanggil seorang wartawan. Yupz, bukan hanya satu dua orang yang bilang demikian. Padahal aslinya bukan. Saya hanya belajar menulis saja, kalau tulisanku diterima di media massa ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak masalah. Yang penting sudah mencoba.

Sampai akhirnya bergabung pada sebuah komunitas. Di situ banyak belajar pada orang-orang hebat dan guru yang hebat pula, tidak asing lagi di dunia kepenulisan. Mulailah mengenal dan belajar sisi lain kepenulisan selain jurnalistik, yaitu non jurnalistik. Orang-orang hebat ini selalu menginspirasi. Bahkan sempat geram juga melihat tulisan teman-teman yang sering muncul di media. Dari situlah motivasi menulis saya semakin meningkat.

5 bulan menulis tanpa bayaran. Karena saya bukan wartawan, otomatis kala menulispun tidak ada bayaran dari pihak manapun. Saya hanya menyukai hobi yang baru saja. Meliput sana-sini tanpa ada bayaran, saya ikhlas. Ini hanya buat belajar saja. Barulah setelah gabung dengan komunitas itu, jadi tahu media massa yang memberikan honor dan yang tidak. Setelah itu saya coba googling, sebuah portal yang memberikan honor pada penulis. Hasilnya, kini menjadi kontributor pada beberapa portal.

Mendapat kepercayaan menduduki bagian pers pada beberapa organisasi. Samikin cocok dengan apa yang saya jalani saat ini. hal ini menjaidkan saya tetap terus belajar. Dan tentunya turut mengkader para anggota agar bisa menulis.

Menjadi pembicara pada sebuah acara. Ini merupakan hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sebelumnya memang pernah mengisi, tapi buka seperti ini. kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Karena momen seperti ini jarang terjadi. Saya banayk belajar dari kegiatan semacam ini.

Mendapat tawaran menjadi pembina ekstrakurikuler kepenulisan. Ya, beberapa waktu lalu mendapat tawaran menjadi pembina ekstrakurikuler kepenulisan pada  SMPN di sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Banyumas. Rasa terharu menyelimuti diri. betapa tidak, saya baru anak kemarin di dunia seperti ini. tetapi mendapat kesempatan yang langka pula. Tidak saya sia-siakan. Ini merupakan kesempatan saya untuk berbagi. Dilain sisi, saya harus tetap belajar agar semakin membuka cakrawala dalam kepenulisan.

Semua itu atas izin dari Alloh SWT. Semoga kedepan lebih baik lagi dan dapat mencetak generasi yang lebih hebat. Amiin.

Ketika Website Desa Berbicara

INFO KITA – Kreatif dan inovatif adalah karakteristik yang terpatri kuat dalam jiwa kreativitas. Seseorang yang mempunyai jiwa kreativitas memiliki kemampuan berpikir dan dapat melakukan tindakan yang bertujuan untuk mencari pemecahan sebuah kondisi ataupun sebuah permasalahan secara cerdas, berbeda, tidak umum, orisinil, serta membawa hasil yang tepat dan bermanfaat.

Para Aktivis GDM Berfoto Usai Kegiatan

Menurut Zimmerer dkk (2009) kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam melihat masalah dan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan solusi kreatif terhadap masalah dan peluang untuk meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan orang-orang. Selanjutnya Ted Levitt (dalam Zimmerer, 2009) menyatakan bahwa kreativitas memikirkan hal-hal baru dan inovasi mengerjakan hal-hal baru. Jadi kreatif adalah sifat yang selalu mencari cara-cara baru dan inovatif adalah sifat yang menerapkan solusi kreatif.

Kreatif dan inovasi mungkin dapat dipandang sebagai upaya menganggu keseimbangan yang telah tercipta. Kreatif dan inovasi bisa juga diterapkan dengan cara sederhana. Kuncinya adalah kepekaan dalam mencium setiap peluang dan kemampuan membaca pasar agar tepat sasaran. Begitu juga dengan membangun desa, untuk mewujudkan desa yang mandiri dibutuhkan kretivitas dan inovasi dalam merealisasikannya sehingga desa dapat memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang di milikinya, menjadikan desa modern dan hampir mirip dengan perkotaan, masyarakat memiliki pencahariaan beragam, dan sarana-prasarana yang lebih maju, serta akses internet yang lebih mudah.

Kemudahan akses internet inilah yang selanjutnya menjadi peranan penting bagi perekonomian desa. Beberapa desa di Kabupaten Banyumas memanfaatkan internet sebagai sumber dari berbagai informasi dan kemajuan ekonomi. Namun sebelum jauh ke sana, terlebih dahulu kita menengok berbagai upaya demi memajukan desa masing-masing sebelum adanya dana desa.

Sebagai warga desa, ketika melihat perekomian terpuruk, pembangunan yang kurang merata, dan pendidikan yang kurang memadai membuat hati menjadi geram. Lalu berpikir bagaimana dengan anak cucu kita nanti, apakah akan terus seperti ini? kita hanya bisa ngedumel melalui perangkat desa, berharap aspirasinya dapat didengar pemerintah. Tentunya perangkat desapun berpikir keras mengenai berbagai persoalan di desanya. Lantas bagaimana cara mereka mensejahterakan warganya?

Memang pembangunan desa kala itu hanya staknan, tidak ada bantuan, bahkan untuk pemutaran uangpun dirasa sulit. Hal tersebut dirasakan ke seluruh urat nadi di desa. Merekapun harus rela melayangkan proposal ke berbagai tempat agar terealisasi pembangunan di desanya.

Dari kemandirian-kemandirian di masing-masing desa inilah muncul yang namanya GDM. Apa itu GDM? Mungkin saya adalah orang yang kurang tepat dalam menjawab pertanyaan ini karena masih banyak aktifis GDM yang lebih berpengalaman. Sedikit menjawab, dari kegiatan juguran GDM yang saya ikuti bersama perangkat desa dan aktivis GDM dengan dihadiri dari berbagai penjuru kabupaten Banyumas dan Purbalingga serta Cilacap, kemarin (22/4/2017) di Purwokerto (https://masbroh.id/juguran-gdm/).   GDM adalah singkatan dari Gerakan Desa Membangun. Fokus utamanya yaitu memanfaatkan teknologi. Fokus inilah yang kemudian lahir desa-desa yang mempunyai website dan sebagainya. Dari sinilah kemudian tumbuh peradaban-peradaban baru di masing-masing desa. Informasi yang cepat, transparansi yang tepat, dan transformasi yang berkelanjutan memberikan dampak positif dan respon yang kuat dari berbagai pihak baik nasional maupun internasional. Kolaborasi yang nyata demi tujuan di masing-masing desa membuat mereka semakin bersemangat, saling menguatkan, dan saling mengisi. Mereka meyakini bahwa desa itu harus berprestasi, harus kuat, dan harus membangun. Hal tersebut sudah terbukti dengan adanya beberapa desa yang melek IT, seperti desa Melung dan desa Beji di Kecamatan Kedung Banteng, desa Dermaji di Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan desa-desa lainnya.

http://Baca : http://www.infofajar.com/karang-taruna-kamandaka-12-habis-gelap-terbitlah-terang/

Melalui website inilah yang kemudian menjadi bomber ujung tombak segala informasi di desa. Merakapun menulis pengembangan visi tentang impian desa di website. Pola pengembangan ini dengan ditunjukannya master plan dari masing-masing desa, dengan begitu masyarakat dengan mudahnya menjadi lebih tahu.

Keberadaan website desa terbukti ampuh dalam melejitkan perkembangan desa. Pemberdayaan masyarakat setempat dapat teratasi dengan hadirnya internet. Selain itu keberadaan website mampu membuktikan branding desa sebagai desa melek IT. Kemudian mulailah tumbuh kemandirian ekonomi lokal setempat. Beberapa produk lokalpun dapat dipasarkan secara online melalui website desa. Hal ini dapat menarik pasaran dari dalam dan luar desa.

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa ternyata pertanyaan mengenai kesejahteraan warga desa, dapat diputar 360 derajat dengan kondisi yang ada sekarang ini. Kreativitas dan inovasi para perangkat desa memberi dampak positif terhadap warganya. Apalagi dengan hadirnya internet. Masyarakat kian dekat dengan desa dan dapat mengetahui kemajuan desa melalui website desa. Fungsi website inilah yang mampu membuat peradaban baru, dan mampu memajukan perekonomian desa setempat tanpa harus meninggalkan kearifan lokal.

Penulis : Fajar Pujianto

PERSETERUAN SEMUT DAN MANUSIA

Sekelompok semut sedang berada di pohon. Pohon yang sudah tua nan lapuk. Mereka merasakan seperti ada gempa. Bergoyang-goyang. Luar biasa dahsyat. Seperti mau roboh.

“Raja! Apa yang terjadi ini?” seru warga semut di sela-sela lubang kecil. Ketakutan.

“Tenang rakyatku, semua akan baik-baik saja,” jawab raja tegas.

“Prajurit!” seru raja.

“Siap raja!” jawab prajurit cepat.

“Lihat apa yang terjadi di luar sana,” perintah raja mengacungkan jari telunjuknya.

Bergegas prajurit menuju luar kolong-kolong pohon tua tersebut. Terlihat di bawah ada sesosok manusia. Manusia pembawa kapak. Dia menghantamkan kapaknya kepohon tua tersebut.

“Dogk dogk dogk,” suara tersebut terdengar jelas oleh si prajurit. Kapak itu menghantam keras rumah mereka.

Prajurit tersebut berlari kencang menghadap raja.

“Raja! Ada manusia sedang menebang pohon ini!” ucap prajurit ngos-ngosan.

Dia tidak sempat menghela nafas dalam-dalam. Takut sebentar lagi roboh rumah mereka.

“Tidak bisa dibiarkan! Aku akan bikin perhitungan!” ucap raja geram.

Kemudian, raja beserta prajurit keluar dari sarangnya. Turun dari pohon. Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyerang manusia tersebut. Agar manusia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu.

“Serang!” perintah raja lugas.

Mereka menyerang manusia itu dengan menggigitnya. Ada yang di bagian kaki, badan, tangan, dan kepala. Sontak. Manusia tersebut berhenti dari aktivitasnya. Menebang pohon tua.

“Au, au, au sakit,” ucap manusia itu seraya menggaruk dan menepis tubuhnya yang tergigit.

“Apa ini! gatal, sakit!” kata manusia tersebut sembari mengambil tepisan dari tubuhnya.

“Kau mut! Apa yang kau lakukan!” tanya manusia.

“Apa yang kau lakukan? Harusnya aku yang bertanya sama kamu, manusia!” ucap semut itu di balik tangan manusia itu.

Rupa-rupanya yang terkena tepisan itu adalah raja semut. Untung saja, raja terluka tidak terlalu parah. Raja tersebut bangkit dan berdiri di atas telapak tangan manusia itu.

“Ini rumah kami, kenapa kau tebang?” tanya raja mengacungkan jari.

“Pohon ini sudah tua, kalau roboh bisa membahayakan mahluk hidup lainnya,” jawab manusia polos.

Semut terdiam. Berfikir sejenak. Memfikirkan ucapan manusia.

“betul juga ya,” ucap semut dalam hati.

“Oke begini saja, kau boleh tebang pohon ini, tapi beri kami waktu untuk pindah,” sambung semut kepada manusia tersebut.

“Baiklah, silahkan kau kembali ke rumahmu dan aku pulang dari menebang pohon ini,” pungkas manusia.

Mereka akhirnya berdamai, semut tidak lagi menggigit manusia tersebut. Begitu juga dengan manusia. Dia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu. Raja beserta pasukannya mempersiapkan diri pindah tempat. Agar mereka hidup damai. Tidak ada yang mengganggu ketenangan mereka.