TEH MANIS ITU!

Roda kehidupan sangatlah cepat berputar. Waktu pun begitu mudah berlalu. Bagai tiada kenangan yang menutup pilu. Bait pertama itu, rasanya tiada goresan yang memutar balikkan sebuah nestapa.

Di bawah langit-langit itu. Di atas kayu yang kau ukir halus. Di tengah ketenangan sebuah kesunyian. Ah, rasanya baru kemarin.

Seduhan teh manis itu. “Wah..terimakasih atas teh manis ini, semanis yang membuatnya.” Tiada angin berlalu. Tiada hujan menggilir. Sungguh waktu itu membutakan aroma persaudaraan. Sebuah persaudaraan yang digalang dengan mengukir sebuah kegiatan. Dan berlalu dengan media sosial.

Sungguh, pertemuan itu semakin membuatku terperana. Ingin ku merengkuhnya dan menjadikannya seorang permaisuri di singgasana surga. Oh…belum waktunya. “Bermimpi boleh dong,” nada kecil ini menyelimuti seluruh akal sehatku.

Kamu. Ya kamu. Entah semenjak kapan perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja. Ataukah hanya pertemuan pertama. Orang-orang sering mengatakan, “cinta pada pandangan pertama.” Itu tidak ada dalam kamus besar alam bawah sadarku.

Pernah suatu ketika saat kami menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Saat itu, saya datang dengan teman-temanku. Sementara dia, datang dengan rombongan yang memang masih saudara sang manten. Saat itu saya hanya duduk di kursi tamu undangan. Suara itu, ya..suara gending yang ditabuh dengan begitu merdunya. Nyanyian itu hanya diwakili oleh sebuah piringan kecil. Kaset CD? Mungkin saja.

“Saya kayak paham siapa, duduk di situ dan ikut berfoto juga, eh ternyata kamu.”  Kata itu mengingatkanku saat menghadiri resepsi. “Memang demikian, tapi saya tidak paham kalau itu kamu,” jawabku membayangkan kejadian itu. “Saya juga sering melihatmu, tapi dalam di mana dan dalam acara apa saya lupa.” Sontak, saya menceritakan ketika masih aktif mengikuti sebuah organisasi kepemudaan. Tidak terasa, teh ini hampir habis.

Lalu, ku kecup mesra ujung cangkir yang masih perawan. Tak pernah bosan ketika membagikan kisah itu. “Ahh, mungkin itu hanya alasanku saja, biar semakin lama bersamanya”. Tidak. Tidak juga begitu. Terkadang suara detik itu berdebug kencang. Ia hanya menempel mesra di tembok berwarna hijau itu. Seolah dia menyaksikan dengan mata telanjang, dua orang yang saling bercengkerama untuk pertama kalinya.

“Berapa lama lagi kau selesai?”

“Insyaalloh, Oktober sudah harus selesai.”

“Lalu, kau mau apa setelah ini?”

“Saya akan pulang, dan inginnya sih punya usaha di rumah.”

“Menikah saja.”

“Hehehe.”

Lantunan nada indah dari angkasa terdengar merdu. Adzan. Itu menandakan waktu shalat Dzuhur sudah harus dilaksanakan. “Ayo mas shalat. Bareng ya.”     Saya beranggapan kalau kita mau berjama’ah. Dalam hati saya ingin menolaknya, namun lidah ini terlanjur mengiyakan. Usai mengambil air wudlu, kita pun berpapasan. Saya kira akan berjama’ah. Ternyata, dia masuk kamar. Itu artinya tidak ada kata berjama’ah. Syukurlah. Takutnya, kalau berjama’ah akan ada niat yang berbeda ataupun mengambil simpatik darinya. Itu berbahaya bagiku.

Kembali Bercengkerama.

Tidak dapat apa yang ku katakan. Seakan tergerus oleh waktu. Cengkerama itu menjadi semakin berkurang. Dua orang itu membawanya pada kesibukan tersendiri. Ya, dua orang tamu di luar sana. Kedua orang tuanya memang belum pulang, karena ada kegiatan di luar. Alhasil, diapun kembali harus menyeduh teh, dan menyajikan beberapa hidangan lain.

“Kluk, kluk, kluk…” suara detik jam itu tiada sekencang seperti pertama masuk rumah ini. Seakan dia terlihat lemas dan mulai membisu. Mungkin dia mulai bosan dengan kehadiranku. Atau, dia tidak berdebar lagi karena melihat sekarang saya sering duduk sendiri.

Saya pun menyadarinya. Lalu, ku pakai jacket ini yang menunggu dari tadi untuk  dipakai. “Sudah semakin sore nih, saya harus melanjutkan perjalanan.” Ah, seperti musafir saja. Ya, waktulah yang membatasi semuanya. Tapi, janganlah salahkan waktu, karena waktu tidak bersalah. Saya sih hanya berharap; semoga persaudaraan ini tidak luntur ditelan oleh waktu, dan komunikasi tetap terus terjaga sampai kau menuju singgasana kesuksesan di sana.

Arah

ARAH

Oleh : Fajar Pujianto

 

Apa yang terjadi padaku belakangan ini. aku tak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Mata ini, hati ini, semua tak dapat berpadu. Sunyi, sepi menutupi penjuru singgasana jiwa. Gelap. Tidak dapat merongrong indahnya sukma. Di mana? Kemana? Arah itu tak dapat ku temukan lagi. Haruskah tembok ini menjadi sandaran disetiap malam?

“Arah, di mana kamu?” lantunan nada menyerua di bawah genting, persis ketika menikmati masa-masa indah berdua. Oh Arah, andai aku tidak terperosok pada rayuan gadis mungil itu. Mungkin saat ini kita sedang menikmati teh hangat berdua di atas kursi kayu, hasil pernikahan kita dulu.

“Lalu, di mana kamu, Arah!” suara itu semakin keras keluar dari hati dan pikiranku. Sialan. Cewek itu benar-benar sialan. Otot-otot tanganku semakin kekar. Ingin sekali memukul wajah gadis itu. Perempuan yang telah merusak hubungan rumah tanggaku dengan Arah. “Andai kau di depanku pasti sudah kupukul habis.”

Memang semua itu salahku. Arah tidak salah dan tak berdosa. Dia wanita baik, salehah, dan pastinya patuh pada suami.

Arah merupakan gadis yang ku idam-idamkan semenjak semester empat. Pertama kali bertemu adalah ketika sedang melaksanakan lomba tingkat Propinsi. Aku dan dia berbeda Universitas. Jadi kita saling bersaing. Kala itu aku sebagai juru bicara mewakili almamaterku. Diapun demikian. Ketika pemanggilan untuk maju, akupun sudah sangat siap. Berbekal materi yang sudah aku hafalin semalam.

Sang moderator menyuarakan pemanggilan Unversitas lain sebagai tim lawan. Aku sudah sangat siap, tidak ada gemetar sedikitpun. Namun, ketika peserta naik podium, ada yang berbeda. Hati ini, mata ini, dibuat tak berdaya olehnya. Cewek berbaris di tengah yang dihimpit dua rekannya dalam satu tim. Dia membuat detak jantung ini berdebug kencang. “Andre!” seru Aya menginjak kakiku. “Apa si yang kamu lihat!” pantas saja Aya berucap demikian. Aku sedari tadi berdiri diam tak bermakna. Gadis itu benar-benar membuat hati terlena. Maksud hati ingin sekali berkenalan dengannya dan mengajaknya menikah. Ahh, masih semester empat. Masih belum cukup umur. Hmm…setidaknya bisa ku jadikan pacar, anggap saja ta’arufan. Apakah aku hanya berkhayal? Ah, sepertinya tidak. Nanti pasti aku akan berkenalan dan meminta nomor telephonnya. Agar aku bisa menghubunginya dan bertemu kembali. “Andreee…..!!! semua penonton menghadapku. Suara Aya benar-benar menghapus lamunanku. Semua menertawaiku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Terkesipu malu.

 

“Arah.”

“Assalamu’alaikum Andre.”

“Wa’alaikum salam rah.”

Begitu acara usai aku langsung menghampirinya ketika akan keluar ruangan. Kupandangi ia dari ujung kaki hingga kepala, sungguh indah nian. Akan sangat berharap jika menjadikan ia calon istrinya kelak. Sifatnya, perlakuannya, religiusnya, hmm.. aku suka. Terlebih dengan hijabnya yang syar’i, semua terlihat sempurna.

“Maaf ya atas perlakuanku yang tadi, jadi semua menertawaiku,” ucapku menggaruk kepala.

“Ah, enggak apa-apa, itu kan kamu, bukan aku,” ucapnya tersenyum manja.

Ahh, itu semakin membuatku terperana. Kau membuat dunia khayalku kembali terbit. Suara itu, desahan suara yang aduhai dan senyuman manja yang membuat hati berbunga-bunga, seakan semuanya mencerua dalam alam bawah sadar. Angin yang sepoi-sepoi semakin menambah sejuknya suasana. Deru air hilir yang semakin deras, seakan mematikan kata-kata yang ingin keluar dari hati ini.

“Andre…” suara itu. Ya, aku sangat berharap suara itu kembali muncul.

“Andree….” benar saja Arah kembali memanggilku. Suara yang kunanti-nantikan.

“Buka mata kamu Ndre.” Hah! Yang ku lihat kali ini bukan Arah. Melainkan cewek mungil itu, Aya.

“Kamu dari tadi ngelamun apa si? Cewek itu?” hah, kok Aya tahu yang ku pikirkan, seperti peramal saja.

“Aku kurang apa?” tidak biasanya Aya berucap demikian. Padahal dia biasanya jaim dan jahil pula.

Aku menganggap Aya sudah seperti adikku sendiri. Lantaran ia sudah terlalu dekat semenjak SMA sampai kuliah. Kedekatan kamipun sudah dikenal banyak orang. Sampai-sampai kami pernah dijuluki suami-istri karena kemana-mana sering berdua. Kamipun sering mewakili almamater berdua. Sampai sekarang ini, hanya saja ada tambahan satu lagi, yaitu Ega.

Eh, ngomong-ngomong acara perlombaan hari ini, di mana orang yang berdiri persis di depanku tadi. Di mana gadis yang membuatku terperana dan ditertawai banyak orang. Duh, ternyata dia benar-benar sudah pergi. Padahal aku belum sempat meminta nomor telephonnya. Bagaimana aku bisa menghubunginya nanti. Duh..aku benar-benar menyesal, kenapa juga harus melamun. Di mana dia sekarang?

 

Suara jam beker berbunyi. Pertanda hari sudah pagi. Akupun harus mandi dan bersiap berangkat kerja. Kini aku hanya sendiri di rumah. Bapak dan ibuku telah tiada semenjak tiga tahun silam. Sebelum dan sesudah wisuda. Kali ini aku sudah menyandang gelar sarjana dan bekerja pada suatu perusahaan besar. Aku pun menempati salah satu bagian penting dalam perusahaan tersebut. Amanat yang diberikan kali ini tidak lepas dari peranan orang tuaku terdahulu. Mereka begitu gigih dalam memotivasi dan mendoakanku. Aku sangat berharap seperti kedua orangtuaku. Mereka sangat harmonis dalam berumah tangga. Tidak ada suatu permasalahan berarti dalam rumah. Harapan orang tua terhadapku sangat mulia, yaitu mempunyai istri salehah, baik, nurut sama suami, dan tentunya yang seiman. Tidak lupa juga, mereka selalu bilang agar aku menjadi orang sukses kelak dan dapat mengemban amanat dengan penuh tanggung jawab.

Pagi ini aku agak santai dan tidak terlalu terburu-buru. Sebab karyawan kantor sedang diliburkan. Hanya beberapa orang yang datang untuk piket. Kali ini aku memakai mobil Avanza yang ku beli beberapa bulan yang lalu. Hasil kerja kerasku sendiri. Suara lalu lalang kendaraan di kota ini semakin membuatku tidak nyaman. Alhasil kuputar musik kesukaanku, Sheila on 7.

“Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu …” Sambil menikmati lirik lagunya yang indah, sesekali menirukan walau dengan nada tak beraturan. Sesekali melirik kekanan dan kiri karena semrawutnya kendaraan. Terlihat sesosok wanita di pinggir jalan, sepertinya sedang menunggu angkot. “Hijabnya,” iya itu seperti Arah. Ya Arah. Namun laju mobilku sudah di depan, melebihi gadis itu. Aku pun memberhentikan mobilku di pinggir jalan. Setelah berhenti, aku berlari menuju arahnya. Naas, dia sudah terlanjur naik angkot. Akupun kembali naik mobil dan membelakangi angkot tersebut. Tidak dapat disangka dan tidak dapat diduga. Dia berhenti tepat di depan kantor sebelah kantor tempatku bekerja. Langsung saja, mobil saya berhentikan. Dan aku, kembali berlari mengejarnya.

“Assalamu’alaikum A..a..arah.”

“Wa’alaikum salam Andre.”

Siup-siup angin. Rintik-rintik berjatuhan bunga-bunga keharmonisan. Lantunan musik alam semakin membungkam kebersamaan. Seakan terbuai dalam pertemuan. Seperti merajut kembali senar yang telah patah. Bahagia menyeruati berdua. Indah nian.

“Kau bekerja di sini Ndre?” suaranya masih seperti dulu. Lembut dan ah..semakin membuatku tak berdaya.

“Ndre.”

“I..ii..iya, eh engga kok. Aku bekerja di kantor sebelah,” nada suaraku semakin terpatah-patah. Melihatnya pun aku gerogi, apalagi jika bersanding dengannya.

 

Usai pertemuan itu, kamipun menjadi sering bertemu. Akhirnya kami sama-sama mempunyai tekad untuk menikah. Pernikahan kamipun berlangsung cukup meriah. Dengan dihadiri teman-teman semasa kuliah terdahulu. Terkecuali bagi Aya. Dia tidak hadir dalam acara tersebut lantaran sakit.

Usai pernikahan, kamipun hidup berdua di dalam rumah tinggalan orangtuaku. Kamipun sangat bahagia hidup bersama. Terlebih jika kami menyeduh teh di meja depan. Kebersamaan ini seakan menjadi sangat berarti. Pasalnya pertemuan pertama hanya berakhir sebuah pertanyaan dan kegelisahan. Namun setelah sekian lama, sekian tahun barulah bertemu dan akhirnya hidup bersama.

Hari itu, hari Sabtu. Arah ada acara keluarga di rumah orangtuanya. Sementara Andre harus piket di kantor. Iapun bergegas untuk mengantarkan istri tercintanya. Pagi itu tidak terlihat seperti biasanya. Andre agak tergesa-gesa dalam persiapan sebelum pemberangkatan. Ia pun segera memanaskan mobilnya. Tidak lama kemudian seluruh barang sudah dimasukkan ke mobil dan siap untuk berangkat.

“Ayo Rah, berangkat,” ajakku mengkalkson mobil.

“Sebentar yah,” ucapnya dibalik pintu.

Mereka segera berangkat ke rumah orang tuanya. Sesampainya di sana, Andre langsung cabut gas dan langsung berangkat ke kantor. Namun di tengah perjalanan, ia melihat Aya yang sedang menunggu angkot. Kali ini dia tidak diantar oleh Ega, yang sekarang menjadi pacarnya.

“Aya, ayo ikut,” ajakku sembari membuka pintu mobil sebelah kiri.

“Makasih bos Andre, atas tumpangannya.”

“Ah..biasa saja.”

“Si bos makin keren aja nih.”

“Ah, kau juga makin cantik Ay, tambah mungil lagi, hehe.”

“Ah si bos ini pandai merayu deh.”

Aku kembali melaju mobilku. Seperti biasa lalu lalang laju kendaraan yang semakin semrawut membuatnya tak nyaman. Masih seperti dulu, lagu Sheila On 7 kembali diputar. Kali ini berjudul ‘Mari Bercinta’. “Kau masih suka lagu ini Ndre?” masih seperti dulu, akupun menyukai seluruh lagu grup band yang satu ini. “Iya Ay,” jawabku singkat, karena aku sembari menirukan lirik lagunya.

Belum sampai kantor, Arah menelephon. Dia mengatakan bahwa dompetnya ketinggalan dan menyuruhnya untuk mengambil. Akupun segera putar arah dan kembali ke rumah. Saat aku masuk rumah, Ayapun ikut masuk. Dia hanya duduk di kursi tamu, sementara aku keluar-masuk kamar dan mencari dompet ke sana-kemari tidak ketemu-temu.

“Kenapa Ndre?”

“Belum ketemu dompetnya Ay.”

Saat mencari bersama-sama, aku tidak sengaja memegang tangannya. Yaitu saat sama-sama mencari di balik almari pakaian. Saat itulah tangan kiriku memegang tangan kanannya, dan kitapun saling berpandangan. Raut mukanya kian dekat mengadapku. Hembusan nafasnya terdengar risih di telinga. Aku tak dapat mengabaikannya. Hembusan nafas itu kian dalam dan ah, aku tak tahu dengan diriku saat itu.

Perasaan Arah kian was-was, karena Andre terlihat lama dalam mengambil dompet. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang. Dia diantar oleh adiknya. Sesampainya di rumah, Arah melihat ada tas wanita di meja tamu. Ya, itu tas Aya yang ditinggal di situ. Sontak saja perasaan Arah semakin tak jelas. Dia merasa ada yang ganjil di rumahnya dan juga pada suaminya. Tak berpikir lama, Arah langsung menuju kamar tidur, tempat ia dan suami beristirahat.

“Astaghfirulloh, Andre!”

“Apa yang kau lakukan!” bentak Arah dengan diiringi derai air mata.

Dia tidak menyangka suaminya bakal bejat seperti itu.

“Arah, maafkan aku, aku tidak bermaksud.”

“Arrggghhttttt….”

“Ceraikan aku sekarang juga!” Arah tidak dapat menahan diri. Diapun langsung pergi begitu saja dengan membawa seribu penyesalan dan kepedihan.

Sementara Aya, iya tak dapat mengerti harus bagaimana. Pasalnya selama ini iya mencintai Andre, sementara Andre tidak demikian. Aya sudah menikmati cinta Andre walau hanya sekejap.

“Aku bingung harus bagaimana. Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa kamu di sini. Hay Aya. Kenapa kamu lakukan ini terhadapku. Arrggghhhtttt……”

“Enggak tahu Ndre, Aya akan bilang sama orangtua Aya. Apa yang sebernya terjadi pada Aya. Aya nggak ingin anak ini bila lahir tanpa seorang ayah.”

“Ndre, kamu harus tanggung jawab.”

Tidak lama kemudian, Aya bergegas meninggalkanku. Aku bingung harus bagaimana. Aku hanya duduk bersenderan tembok. Bingung apa yang harus ku lakukan. Apakah Arah akan benar-benar meminta cerai. Ataukah Aya akan kembali dan meminta aku menikah dengannya.

Aku benar-benar menyesal atas perbuatan bejatku ini. Aku hanya terbawa nafsu sementara. “Arggh..setan kenapa kau merayuku melakukan perbuatan hina ini!”. Bayangan hidup bersama Arah kini hancurlah sudah.

“Tuhan, ampunilah segala dosa-dosa hamba. Jauhilah hamba dari godaan setan-setan terkutuk.”

 

 

 

 

 

 

Penulis :

 

Fajar Pujianto,

Pegiat literasi dari Banyumas yang sedang latihan membuat cerita pendek. Saat ini menjadi pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Anfat di desa Babakan Kecmatan Karanglewas dan menjadi tenaga kependidikan di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari Kecamatan Cilongok. Tinggal di RT 01 RW 07 desa Babakan Kecamatan Karanglewas kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Nomor HP : 081329751684. Email : fajar.andenkandenk@gmail.com.  

JUJUR!

Hanya tiga huruf dan lima karakter. Terlihat sepele untuk diucapkan tapi terkadang sulit untuk ditegakkan. Banyak sekali yang bilang kalau jujur itu menyakitkan. Benar tidak? Saya rasa demikian, karena saya pun pernah mengalami hal serupa. Namun jika dibiarkan akan terjadi suatu kebohongan yang berujung lebih menyakitkan. Dari pada mendengar dari ucapan orang lain, lebih baik kita sendiri yang mengatakannya, walaupun ada rasa keragu-raguan. Jika kita ragu untuk mengungkapkannya, alangkah baiknya jika lebih baik untuk diam. Memang membingungkan, apalagi jika kondisi dalam keadaan kepepet. Dalam kondisi seperti inilah hati mulai bimbang, haruskah berlaku jujur tapi akan [mungkin] dibenci atau justru berbohong untuk membela diri? Usahakanlah agar memegang teguh kejujuran.
Agar perilaku jujur dapat diterapkan, ada empat istilah jujur yang dapat dipakai dalam beberapa hal. Yang pertama, jujur dalam berbicara. Kedua, jujur dalam niat dan berkehendak. Ketiga, jujur dalam berkeinginan dan merealisasikannya. Dan keempat, jujur dalam bertindak, dikutip dari norhaya-jujur.blogspot.co.id. Mungkin tidak semua orang melakukan keempatnya. Akan tetapi sebagai pribadi yang penuh dosa, saya pun pernah mengalami hal tersebut. mungkin disengaja ataupun tidak sengaja.
Perlu diketahui ada beberapa manfaat yang diperoleh ketika seseorang melakukan kejujuran. Yang pertama, mudah dipercaya orang lain. Kedua, mendapat banyak berkah dan barokah. Ketiga, hati merasa tenang dan damai. Keempat, percaya diri dan dapat membawa manfaat pada orang lain. Dan kelima, hati akan senantiasa ikhlas dan bersyukur, dikutip dari rislah.com. semoga dengan artikel singkat ini dapat menambah wawasan tentang kejujuran. Acap kali kita melakukan kecerobohan sehingga menimbulkan suatu kebohongan. Dan apabila sudah pernah berbohong satu kali, maka akan merembet ke seluruh penjuru tubuh dan [kemungkin] bakal terulang lagi kecuali bertaubat. Semoga Alloh SWT mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan. Amiin.

JUJUR DAPAT SEDULUR

Saya pernah mengalami suatu dilema ketika ban bocor, bensin tinggal sedikit, uang tidak ada, padahal tamban ban masih jauh. Saya bingung harus bagaimana. Otomatis saya harus membawanya sampai bengkel kan?

Sambil menuntun motor, di tengah perjalanan pun saya berpikir keras bagaimana caranya agar bisa pulang dengan selamat dan tanpa halangan.

Sesampainya di bengkel, ku sampaikan maksud dan tujuan. Saya pun disuruh menghadap pak bos selsaya pemilik bengkel. Lalu, ku ceritakan semuanya. Setelah itu motor milikku mulai digarap. Dan setelah selasai, saya langsung mengucakan terimakasih kepada pemilik bengkel tersebut. malahan ketika hendak pulang, saya dikasih pesangon buat berjaga-jaga di jalan kalau-kalau terjadi apa-apa.

Sampai sekarang saya tetap bersilaturrahim ke tempat beliau karena telah berjasa besar pada saya. Malahan sudah seperti saudara sendiri.

Itulah kenapa kita harus jujur, salah satunya mendatangkan sedulur [saudara].

JUJUR ITU MENYAKITKAN

Haha, itu adalah bahasa-bahasa alay ala abg. Eits, tapi tidak hanya remaja kok, terkadang kaum dewasa pun pernah mengalami hal yang sama. Lihat saja beberapa update status di media sosial J. Yang tidak saya sebut, jangan baper ya. haha.

Oke kembali lagi pada judul. Ini kembali lagi kepada memori tahun berapa saya lupa. Yang jelas kala kita sedang mengalami cinta mati. Mungkin sekitar usia-usia SMP-SMA kali ya.

Ya, kala itu sedang mencintai seseorang [ciaa..]. saya tidak memikir berulang kali. langsung saja, saya mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku yang paling dalam [hahaha]. Dan, apa yang terjadi coba?

Ternyata dia bilang gini : “maaf kamu terlalu baik, saya tidak bisa menerimamu karena saya sudah sama teman kamu.”

Mak jlebb rasanya.

Tapi lupakan, itu hanya cerita sekitar 10 tahun yang lalu. Kabar terakhir si dia sudah punya anak 2, alhamdulillah.

Ini 2017.

BOHONG YANG JUJUR

Apakah anda bingung dengan judul di atas? Haha semoga tidak demikian. Dalam diri mungkin bertanya : “maksudnya apa ini!”.

Sebenarnya tidak ada apa-apa si, kali ini saya hanya akan bercerita tentang ‘bohong yang jujur’. Mengapa demikian? Ini merupakan kisah pengalaman saya, “ciaa!” haha.

Ya, melalui pengalaman yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Kala itu saya masih jadi seorang sales dan tukang kredit.

“Mas Fajar pernah jadi sales dan tukang kredit?” semoga tidak ada yang bertanya demikian.

Saya pernah mengalaminya selama tiga tahun. Pekerjaan yang tidak mudah dan penuh dengan resiko. Memang si semua pekerjaan ada resikonya, tetapi yang ini memang lebih banyak ketimbang pekerjaan lain yang pernah saya jalani.

Ketika itu saya sedang menawarkan barang dagangan ke rumah-rumah warga. Sebagai seorang yang menawarkan barang, tentunya mulut kita tidak boleh diam dong.

“Sewu, sewu, sewu, sewu!”

“Murah, murah, murah, murah!” begitu kata-kata yang saya ucapkan sepanjang perjalanan dengan ditemani barang bawaan di jok motor bagian belakang.

Sebagai seorang sales, tukang kredit, dan sebagainya memang ditekankan supaya tidak mempuyai rasa malu terhadap sesama selagi baik. Pasalnya kalau malu-malu, siapa yang mau minat? Mungkin ada tapi tidak terlalu banyak.

Lantang saja, ketika ada segerombolan ibu-ibu yang sedang bersantai ria di depan rumah salah satu warga, saya langsung mengeluarkan kata-kata demikian.

Sayapun mengambil beberapa barang bawaanku dan menyodorkannya kepada ibu-ibu tadi.

“Ayo bu, murah-murah, seribu-seribu.”

“Ayo dong bu, ambil yang ini dapat bonus loo,” ucapku menyodorkan pakaian.

“Bonusnya apa mas?” tanya seorang ibu.

“Penjualnya.”

Semua tersenyum dan tertawa lebar.

Perbincanganpun berlanjut, ibu-ibu mulai melihat barang yang saya bawa. Saya pun membuka box [saya lebih sering mengucapnya ‘keronjot’] yang berada di jok motor paling belakang.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu.

“Seribu, murahkan?” jawabku.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu lagi.

“Yang itu dua ribu. Ayo bu diambil,” perintahku balik.

Semua mengambil barang bawaan yang saya bawa. Semua merasa senang dan bahagia. Karena bisa membawa pakaian, wajan, bantal, dan kebutuhan rumah tangga yang lain dengan harga yang sangat murah.

Kenapa begitu murahnya? Padahal itu barang masih baru loo. Penasarankan?

Begini ceritanya. Disitulah mulai ada permaian kata. Yang tadi saya ucapkan kata-kata seribu, setelah di tempat kerumunan ibu-ibu sudah ada berapa kata seribu yang saya ucapkan? Haha tidak sedikitkan. Ditambah lagi dengan kata seribu yang diucapkan bergantian, ada berapa coba. Haha, disitulah letak permainannya.

Apakah saya berbohong?

“Jadi begini bu, seribu itu dicicil setiap hari selama 28 kali. Nah yang dua ribu tadi juga sama, dicicil selama 28 kali,” jelasku kepada mereka.

Setelah dijelaskan ternyata dengan [mungkin tidak] terpaksa mereka akhirnya tetap saja mengambil.

Dengan sedikit cerita pengalaman di atas, saya mencoba agar tetap jujur walau dalam keadaan barang tidak lsaya sekalipun. Yaitu dengan pola permainan kata-kata, yang penting tidak sampai berbuat curang dan berbohong. Karena sesunggungnya berbohong itu perbuatan tercela, jujur itu perbuatan terpuji [anak TK pun tahu, hehe].

PERAN AKTIF PEMERINTAH DESA, ORGANISASI, DAN MASYARAKAT DALAM KEGIATAN DONOR DARAH DI DESA BABAKAN

Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada para pendonor yang telah bersedia mendonorkan darahnya di KT Desa Babakan Kecamatan Karanglewas. Dan kamipun mohon maaf apabila dalam penyuguhan kurang berkenan.

                     Pengecekan Darah

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar tanpa halangan berarti. Sebelumnya saya sempat was-was karena tadi malam terjadi gerimis. Tetapi karena panggilan jiwa para pendonor yang luar biasa semakin menggairahkan semangat saya.

Acara donor darah sukarela UDD PMI Kabupaten Banyumas kali ini menggandeng beberapa organisasi lokal di desa Babakan serta beberapa organisasi di tingkat kecamatan Karanglewas.

          Pengisisia data peserta donor

Sebut saja Karangtaruna Kamandaka XII Desa Babakan menghadirkan Karangtaruna Kecamatan Karanglewas. GP Ansor dan Banser Desa Babakan menghadirkan GP Ansor dan Banser Kecamatan Karanglewas.

Selain itu dari pihak Pemerintah Desa pun turut berpartisipasi. Dari organisasi lokal yaitu Karangtaruna Kamandaka XII, GP Ansor, Satkorkel Banser, IPNU, IPPNU, Fatayat NU, PIK Remaja ‘Bagoes’, dan TBM Anfat turut memeriahkan suasana. Masyarakat umum pun demikian, mereka sangat antusias dalam mengikuti kegiatan.

Syukur alhamdulillah pencapaian tadi malam melebihi dari yang saya harapkan. Semoga kedepan lebih baik dan banyak lagi. Amiin.

SISWA MA AL-HIDAYAH PURWOJATI KABUPATEN BANYUMAS LATIHAN MENULIS

Kemarin (12/6) merupakan momen berharga dan terindah ketika saya berbagi tentang kepenulisan kepada para siswa MA Al-Hidayah Purwojati. Para siswa ini rerata adalah santri yang menghuni pondok pesantren sekitar, yaitu Al-Hidayah. Mereka sangat antusias dalam mengikuti kegiatan seperti diusung oleh suatu media cetak yang tersebar juga di kabupaten Banyumas, yaitu Gerakan Santri Menulis. Perlu diketahui, kegiatan Gerakan Santri Menulis di kabupaten Banyumas tahun 2017 secara simbolik dibuka langsung oleh Bupati Banyumas. Kegiatan tersebut diadakan di Pondok Pesanren As-Sunniyyah Sokaraja Lor Kecamatan Sokaraja, Ahad (11/6). Jadi jika dikaitkan pelatihan semacam ini membantu mewujudkan santri yang bisa menulis.

Foto diambil di jembatan gantung dekat Pondok Pesantren As-Sunniyyah Sokaraja

 

Jika kita melihat lebih jauh, para santri ini tentunya sudah dibekali dengan ilmu agama dan umum yang begitu banyak. Jika mereka rajin menulis secara otomatis akan menghasikan bibit-bibit unggul seorang penulis yang hebat. Kita tahu para pendahulu yang sudah menciptakan berbagai karya berupa kitab dan lain sebagainya yang sampai sekarang masih dipeajari. Sehingga diharapkan para santri ini mampu menulis dan memiliki sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada pihak sekolah, dalam hal ini kepala, guru, dan karyawan, serta mahasiswa IAIN Purwokerto yang sebelumnya mengisi beberapa kegiatan di sekolah tersebut.

Saya sangat berharap setelah kegiatan ini mereka mempunyai wawasan tentang kepenulisan dan juga mempunyai sebuah karya yang bisa dibanggakan.

MENJADI PEMBINA EKSTRA KURIKULER KEPENULISAN

Ini tidak disangka sebelumnya. Ya, betul sekali. Tidak pernah menyangka bakal jadi seperti ini.

Seperti ini bagaimana?

Didunia kepenulisan, memang belum lama. Berawal dari bulan November tahun lalu. Ketika itu saya belajar jurnalistik. Saya belajar membuat sebuah berita pada seseorang melalui inbok pada akun media sosial, facebook.  Dari pembelajaran yang singkat itu, saya coba berlatih melalui kegiatan yang saya ikuti dan mencoba meliputnya.

Dari liputan itu saya coba kirim ke media massa, dan tulisan pertamaku diterima di sebuah media massa radio dan online. Senengnya luar biasa ketika itu. Berikutnya semakin semangat membuat berita kegiatan, diterima lagi di media massa, bertambah ke media cetak. Sampai akhirnya setiap kali ada kegiatan yang diikuti, saya tulis.

Pernah dipanggil seorang wartawan. Yupz, bukan hanya satu dua orang yang bilang demikian. Padahal aslinya bukan. Saya hanya belajar menulis saja, kalau tulisanku diterima di media massa ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak masalah. Yang penting sudah mencoba.

Sampai akhirnya bergabung pada sebuah komunitas. Di situ banyak belajar pada orang-orang hebat dan guru yang hebat pula, tidak asing lagi di dunia kepenulisan. Mulailah mengenal dan belajar sisi lain kepenulisan selain jurnalistik, yaitu non jurnalistik. Orang-orang hebat ini selalu menginspirasi. Bahkan sempat geram juga melihat tulisan teman-teman yang sering muncul di media. Dari situlah motivasi menulis saya semakin meningkat.

5 bulan menulis tanpa bayaran. Karena saya bukan wartawan, otomatis kala menulispun tidak ada bayaran dari pihak manapun. Saya hanya menyukai hobi yang baru saja. Meliput sana-sini tanpa ada bayaran, saya ikhlas. Ini hanya buat belajar saja. Barulah setelah gabung dengan komunitas itu, jadi tahu media massa yang memberikan honor dan yang tidak. Setelah itu saya coba googling, sebuah portal yang memberikan honor pada penulis. Hasilnya, kini menjadi kontributor pada beberapa portal.

Mendapat kepercayaan menduduki bagian pers pada beberapa organisasi. Samikin cocok dengan apa yang saya jalani saat ini. hal ini menjaidkan saya tetap terus belajar. Dan tentunya turut mengkader para anggota agar bisa menulis.

Menjadi pembicara pada sebuah acara. Ini merupakan hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sebelumnya memang pernah mengisi, tapi buka seperti ini. kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Karena momen seperti ini jarang terjadi. Saya banayk belajar dari kegiatan semacam ini.

Mendapat tawaran menjadi pembina ekstrakurikuler kepenulisan. Ya, beberapa waktu lalu mendapat tawaran menjadi pembina ekstrakurikuler kepenulisan pada  SMPN di sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Banyumas. Rasa terharu menyelimuti diri. betapa tidak, saya baru anak kemarin di dunia seperti ini. tetapi mendapat kesempatan yang langka pula. Tidak saya sia-siakan. Ini merupakan kesempatan saya untuk berbagi. Dilain sisi, saya harus tetap belajar agar semakin membuka cakrawala dalam kepenulisan.

Semua itu atas izin dari Alloh SWT. Semoga kedepan lebih baik lagi dan dapat mencetak generasi yang lebih hebat. Amiin.

GP Ansor Kecamatan Karanglewas Adakan Konferancab

                             Sebagian Peserta dan Panitia

KARANGLEWAS-Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PAC GP Ansor) Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas mengadakan kegiatan Konferensi Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Karanglewas di Pondok Pesantren Ainul Yaqin Pasir Kulon Kecamtan Karanglewas, Sabtu (4/6/2017).

Turut hadir dalam acara tersebut, Camat Kecamatan Karanglewas, Polsek Karanglewas, Kepala Desa Pasir Kulon, Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Karanglewas, Muslimat NU Kecamatan Karanglewas, PAC Fatayat NU Kecamatan Karanglewas, PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Karanglewas, dan tamu undangan lainnya.

Hadir pula sebagai dewan komisioner Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Propinsi Jawa Tengah, Teguh Iman Darus Jami’ . Selain itu kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan dari Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Banyumas.

Adapun sebagai peserta kegiatan adalah berasal dari Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor (PR GP Ansor) se Kecamatan Karanglewas yang diwakili masing-masing lima anggota. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Camat Karanglewas, H. Mahmudi.

Maksud dari kegiatan tersebut adalah untuk memilih ketua terbaru, yang dikarenakan kepengurusan lama sudah berakhir masa jabatannya.

Ahmad Fauzi selaku ketua PAC GP Ansor Kecamatan Karanglewas demisioner mengatakan ketetapan pemilihan ketua yaitu sesuai peraturan rumah tangga GP Ansor, yaitu hasil konggres ke XV tahun 2015 di Yogyakarta pada pasal 23.

“Berdasarkan aturan yang ada maka ditetapkan 5 bakal calon yang menduduki kursi calon ketua. Mereka adalah yang sudah mengikuti PKD dan Susbalan,” katanya dalam penanggapan tata tertib.

PW, PC, PAC, dan Ketua Terpilih

“Dari lima bakal calon, ada dua yang sedang bertugas sebagai Pos Pengamanan Banser, sedangkan yang satu batas usia sudah melebihi ketentuan, dan satunya lagi mengundurkan diri dikarenakan masih tahap pengenalan dalam organisasi Ansor yang sebelumnya aktif di oranisasi IPNU. Oleh karena itu maka secara aklamasi ditetapkan satu orang calon ketua yang sekaligus menjadi ketua terpilih,” imbuhnya.

Teguh Iman mengungkapkan, bahwa organisasi Ansor merupakan organisasi kader, jadi kegiatan tersebut secara otomatis menjadi bentuk pengkaderan terhadap generasi mendatang. Selain itu masalah tanggung jawab menjadi hal yang utama mengingat berbagai persoalan yang terjadi saat ini.

Selain Wisata Jasmani, Baturraden Juga Menampilkan Wisata Literasi dengan Hadirnya TBM Rumah Cendekia

“Adanya media sosial beberapa dijadikan alat profokasi dan adu domba, seperti yang terjadi belakangan ini pada beberapa situs yang menyerupai NU. Kelompok ini cenderung ribut dan tidak bisa apa-apa  untuk musyawarah. Maka, adanya Banser harus pergunakan yang positif,” katanya.

“Dilihat dari segi ekonomi, setelah diteliti ternyata generasi sekarang lebih senang bebas tanpa terikat, artinya menginginkan mempunyai usaha sendiri. Diharapkan organsasi Ansor di Kecamatan Karanglewas mempunyai kemandirian dalam ekonomi,” ungkapnya.

Profil Ketua Terpilih, M. Syarifudin

Terpilihnya Syarifudin sebagai ketua PAC GP Ansor Kecamatan Karanglewas, tidak lepas dari peranan dan pengalamannya dalam berorganisasi. Syarifudin merupakan mantan ketua PAC IPNU Kecamatan Karanglewas dan ketua PC IPNU Kabupaten Banyumas beberapa tahun  yang lalu. Selain itu dedikasinya dalam dunia pendidikan menempatkan ia pada sebuah madrasah di desa Singasari tempat ia tinggal, MI Ma’arif NU Singasari.

“Apresiasi diwujudkan kepada anggota Ansor sebagai organisasi kader dengan hadirnya Konferensi Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Karanglewas. Semoga apa yang kita lakukan mendapat ridlo dari Alloh SWT,” pungkas Teguh menutup acara. (Fajar Pujianto/ Pengurus GP Ansor Ranting Babakan Anak Cabang Karanglewas Cabang Banyumas)