Tumbuhkan Kreatifitas Menulis

Seluruh Peserta, Pembedah dan Panitia

PURWOKERTO-Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Banyumas mengadakan kegiatan bertajuk Bedah Buku dan Proses Kreatif Menulis. Kegiatan tersebut diadakan di SD UMP Purwokerto, Ahad (2/4/2017).

Puluhan aktivis literasi yang tergabung dalam forum TBM Kabupaten Banyumas turut hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu berbagai komunitas yang ada di Kabupaten Banyumas, seperti Forum Lingkar Pena dan Komunitas Penulis Artikel Karangalewas juga turut berpartisipasi.

Dimas, pertama dari kiri

Hadir sebagai pembedah Dimas Indriyanto, penulis yang sekaligus dosen muda IAIN Purwokerto. Indra Devandra, penulis sekaligus penerbit buku turut memeriahkan acara tersebut. Bedah buku kali ini adalah membedah buku yang berjudul Kita Guru yang Dinanti karya bapak Riyadi (penulis sekaligus kepala SDN 1 Kediri, Karanglewas) dan Tomas Utomo (penulis sekaligus guru SD UMP Purwokerto).

Dimas Indriyanto selaku pembedah buku pada kegiatan tersebut mengatakan bahwa menulis bukan merupakan bakat setiap orang. “Menulis itu bukan bakat. Tapi suatu hal yang jika istiqomah melakukannya maka kita akan menjadi penulis hebat,” kata Dimas yang pernah meraih penghargaan sebagai pemuda berprestasi bidang pendidikan seni dan budaya oleh Pemerintah Kabupaten Brebes.

“Jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Tapi tulislah apa yang kau pikirkan,” sambung Indra Devandra yang juga sebagai penulis lagu dan penerbitan buku.

Riyadi juga mengatakan menjadi penulis itu asyik karena bisa berteriak sepuas hati. “Ya, seringkali berteriak pada sesuatu yang ingin disuarakan. Namun tidak mampu tersampaikan secara langsung.” Kata Riadi yang juga sebagai ketua Kompak.

Pemaparan

“Teriakan itu bisa berkaitan erat dengan suatu hal yang menjadi momok ketidakadilan. Fenomena ketidaklaziman yang sudah menjadi santapan umum ataupun sebuah pernyataan kritis yang belum terjawab,” sambungnya.

Tomas Utomo menambahkan bahwa menjadi penulis yang sensitif akan membuat lebih mudah untuk mengemas dengan cantik apa yang dilami menjadi sebuah tulisan.  “Seorang penulis memiliki kemampuan untuk membahas perasaannya. Paham betul apa yang sedang dialaminya dan bagaimana mengungkapkan apa yang dirasakan dalam bentuk tulisan,” tutur Totok Utomo, penulis yang sudah mempunyai 5 buku karya miliknya.

Panitia beserta tamu undangan

Fajar Pujianto selaku ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan Bedah Buku  dan Proses Kreatif Menulis forum TBM Kabupaten Banyumas merupakan rangkaian kegiatan rutin forum TBM Kabupaten Banyumas. “Ini merupakan kegiatan keenam kalinya semenjak kami dibentuk. Kegiatan ini diharapkan bisa memotivasi para penulis pemula agar lebih kreatif lagi dalam menulis. Selain itu kegiatan ini juga sebagai wujud dedikasi kita terhadap masyarakat,” pungkasnya. (Fajar Pujianto/ Ketua Panitia Bedah Buku dan Proses Kreatif Menulis Forum TBM Kabupaten Banyumas)

 

MERPATI PUTIH

Merpati…

Betapa indah sayapmu…

Putih dan suci

Kilau lembut sayapmu

Membuatku ingin selalu membelaimu.

 

Oh…merpati…

Terbang tinggi…

Setinggi cita-cita dan harapku.

Lambaian sayapmu

Seolah ingin mengajakku, terbang,

Dan membentang menikmati

Keindahan alam dari ketinggian.

 

Namun, itu hanyalah mimpi

Yang tak pernah terjadi.

Satu hal yang pasti, setinggi apapun

Engkau terbang, sejauh apapun engkau

Pergi…

Pastilah kau kan kembali

Karena kau…

“Merpati Putih”

Ukiran Sejarah Wanita Tangguh, Dulu sampai Sekarang

Sejarah merupakan bagian terpenting dalam kehidupan setiap manusia. Sebagai warga negara Indonesia, hendaknya kita tidak melupakan setiap peristiwa terpenting di negeri ini, karena akan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan bermartabat. Berkenaan dengan hal tersebut, tanggal 5 Januari hendaknya kita memperingati hari jadi Korps Wanita TNI Angkatan Laut. Pada saat pertama kali mengadakan perekrutan, Kowal sebutan Korps Wanita TNI Angkatan Laut  menghasilkan 12 orang Perwira Kowal. Dari 12 anggota Kowal,  2 diantaranya berhasil mencapai perwira tertinggi.

Sejalan dengan pembangunan ALRI pada awal dasawarsa tahun 1960-an,  saat itu sangat dibutuhkan tenaga wanita dalam kedinasan angkatan laut. Berkaitan dengan aspek egisensi, yaitu ada beberapa bidang tertentu  yang lebih sesuai dikerjakan oleh kaum wanita sesuai dengan kodratnya, yang akhirnya dibentuklah  korps wanita dalam jajaran angkatan laut.

Adalah Komodor Yos Sudarso yang mencetuskan ide tersebut, untuk kemudian direalisasikan oleh menteri/Panglima Angkatan Laut Laksamana RE Martadinata. Dikeluarkannya surat keputusan Men/Pangal No:5401.24 TGL 26 Juni 1962, surat keputusan ini berisi tentang pembentukan Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL).

Dengan adanya surat keputusan tersebut, maka  terjadilah tindak lanjut dengan adanya perekrutan dan pendidikan para calon anggota Kowal yang akhirnya menghasilkan 12 orang Perwira Kowal.

Pada tanggal 5 Januari 1963, Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) kali pertama mengadakan pelantikan. Pelantikan tersebut dilakukan oleh Kasal Laksamana Muda RE Martadinata, tepatnya di Markas Besar Angkatan Laut yang beralamat di jalan Gunung Sahari 67 Jakarta. Tanggal tersebut sekaligus dijadikan sebagai hari jadi Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL).

Laksamana Muda TNI Christina Maria Rantetana SKM MPH dan Laksamana Pertama TNI dr. Jeanne PMR Winaktu, Sp. BS adalah 2 anggota Kowal yang berhasil mencapai perwira tertinggi.

Berkat kegigihannya, Laksamana Muda TNI Christina Maria Rantetana SKM MPH menduduki Jabatan terakhir sebagai Staf Ahli Menkopolhukam RI Bidang Ideologi dan Konstitusi. Adapun Laksamana Pertama TNI dr. Jeanne PMR Winaktu, Sp. BS. Menduduki Jabatan terakhir sebagai Kepala Dinas Kesehatan TNI AL.

Selain 2 nama perwira tersebut, ada juga beberapa perwira yang berhasil meraih bintang. Adalah Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Sulantri, SP. THT-KL, Laksamana Pertama TNI drg. Lita Agustia, MH.Kes. Laksamana Pertama TNI (Purn.) Dra. Chrisna Murtyani E, D. E. A., Laksamana Pertama TNI dr. Janti Undari, MKK, Msi (Han), Laksamana Pertama TNI Sinoeng Hardjanti, S.H., M.Hum., dan Laksamana Pertama TNI drg. R.A. Nora Lelyana, M.H., Kes serta Laksamana Pertama TNI dr. A.V.S. Suhardiningsih, S.Kp., M.Kes.

Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana SKM MPH

Lahir pada tanggal 24 Juli 1955 di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, istri dari Ir. Cosmas S. Birana, MS ini bertugas semenjak tahun 1979 sampai 2013. Dia adalah seorang perempuan pertama yang mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di luar negeri, yakni di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia.

Ia juga adalah anggota Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) pertama yang ditugaskan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan perempuan pertama yang menjabat sebagai Direktur Sekolah Kesehatan di Angkatan Laut. Ia juga anggota Kowal pertama yang mengikuti pendidikan strata dua di Tulane Universitas New Orleans, Amerika Serikat.

Kerja kerasnya menjadikan ia diangkat sebagai staf ahli Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Bidang Ideologi dan Konstitusi, dan merupakan jenderal bintang dua perempuan pertama di Angkatan Laut serta se Asean.

Seperti dikutip dari sinar harapan, Christina sapaan Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana SKM MPH, masuk dalam jajaran Seratus Wanita Indonesia Terinspiratif 2008 versi Majalah Kartini. Bahkan, menjadi satu dari 21 tokoh favorit pilihan dewan juri. Selain itu, ia masuk dalam deretan Sepuluh Bukan Perempuan Biasa pilihan Majalah Tempo, dan satu perempuan dari 21 Tokoh Kristiani 2013 pilihan Majalah Narwastu.

Christina memang tak pernah tanggung-tanggung dalam bekerja. Total football. Tak gentar menghadapi dominasi laki-laki karena berpandangan perempuan juga mampu mengandung, melahirkan, merawat, dan meneruskan keturunan. Ia melanjutkan, orang bilang mendidik perempuan itu sama dengan mendidik satu generasi.

Pada 1980, dia bersama lima perempuan lain dan 60 laki-laki dari TNI AL ketika itu mengemban tugas berat. Dengan menggunakan KRI Patimura dalam berlayar dari satu pulau ke pulau lain, mereka diterjang angin laut luar biasa kencang di tengah ombak Laut China yang ganas ketika pertama kali berlayar ke Kepulauan Natuna.

Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini juga mempunyai kisah yang mengesankan. Kisah itu ketika dia tiba di sebuah pulau terpencil yang masyarakatnya kehabisan beras. Untung saja mereka punya persediaan beras di kapal, akhirnya beras tersebut dibagikan kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan.

Perjuangan kaum perempuan bukan emansipasi, melainkan kesetaraan dan keadilan gender. Profesional akan membawa orang pada satu kedudukan puncak, tetapi karakter membuat dia awet di situ. “Profesional membawa orang pada satu kedudukan puncak, tetapi karakter membuat dia awet di situ,” ucapnya melalui sinar harapan.

Menurut Ir Cosmas S Birana, perempuan sukses itu luar biasa karena bisa mengurus rumah tangga, suami, dan karier. “Kalau kita disiplin, semua waktu teralokasi dengan baik. Saya sangat menghargai waktu. Kita harus well organized. Kalau mau ubah dunia, kita harus mengubah diri kita sendiri,” ujarnya dikutip dari sinar harapan. Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana SKM MPH, meninggal pada usia 61 tahun tepatnya di Jakarta pada tanggal 31 Juli 2016.

Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Jeanne PMR Winaktu, Sp. BS

Perwira Tinggi kedua di TNI Angkatan Laut ini lahir di Jakarta pada tanggal 20 Maret 1955. Dia memperoleh kenaikan pangkat menjadi Pati TNI AL setelah dipromosikan pada tanggal 9 Januari 2012. Kenaikan pangkat menjadi bintang satu tersebut menancapkan namanya menjadi orang kedua wanita yang mencapai pangkat Perwira Tinggi TNI AL. Ukiran sejarah tersebut juga merupakan hadiah ulang tahunnya saat itu.

Wanita lulusan Pendidikan Aplikasi-3 TNI AL Angkatan-2 tahun 2011 ini, mempunyai lima tanda jasa dalam karirnya di Kowal. Tanda jasa yang pertama adalah Satya Lencana Kesetiaan selama 8 tahun, selanjutnya Satya Lencana Kesetiaan selama 16 tahun, Satya Lencana Kesetiaan selama 24 tahun, dan Satya Lencana Kebaktian Sosial, serta Bintang Jalasena Nararya.

Beberapa karir militer yang berhasil diembannya antara lain; Perwira Kesehatan Rumkital dr. Mintohardjo, Jakarta, Kasubdis Kesehatan Umum Diskes Armada RI Kawasan Barat, Kasubdep Bedah Plastik, Kasubdep Bedah Umum, Kadep Kutema, Kadep Bedah, Kadepkes Ibu dan Anak di Rumkital dr. Mintohardjo, Jakarta, Wakamed Rumkital dr. Mintohardjo, Jakarta, dan Kepala Rumah Sakit TNI AL dr. Mintohardjo, Jakarta, serta Kepala Rumah Sakit TNI AL dr. Ramelan, Surabaya, Kepala Dinas Kesehatan TNI AL (2012).

Saat ini ada lima perwira tinggi Kowal, selain Laksamana Muda TNI (Purn.Christina Maria Rantetana SKM MPH dan Laksamana Pertama TNI (Purn.Dr. Jeanne PMR Winaktu, Sp. BS, ada juga tiga nama yang berhasil. Mereka adalah Laksamana Pertama TNI (Purn.dr. Sulantari, Sp. THT-KL dengan jabatan terakhirnya yaitu sebagai Kepala Rumah Sakit TNI AL dr. Ramelan Diskesal, Laksamana Pertama TNI drg. Lita Agustia, MH.Kes. yang menjabat sebagai Kaladogi REM Diskesal, dan Laksamana Pertama TNI dr. Janti Undari dengan jabatan sebagai Kapusrehap Kemhan.

Semoga dengan sejarah ini, kita bisa belajar banyak dari mereka, bahwa wanita juga bisa menjadi sesosok pemimpin. Dengan segala resiko yang dihadapi mereka bisa melalui itu semua. Kesetaraan dan keadilan gender menjadi hal yang harus diperjuangkan. Profesional dalam bekerja akan membawa orang pada satu kedudukan puncak. Pendidikan yang tanpa mengenal usia akan membawa dampak positif bagi sesama, semoga bermanfaat.

WASPADA LETTOSPIROSIS

Belakangan ini penyakit lettospirosis menjadi perbincangan banyak orang. Penyakit ini lebih dikenal dengan penyakit kencing tikus. Karena penyebarannya melalui kencing tikus dan  menyebar melalui bakteri Lettospira.

Kemarin, Rabu (29/3/2017) Kepala Puskesmas II Kecamatan Cilongok, Basuki Rahmat beserta Imam Musofi melaksakan penyuluhan tentang kewaspadaan dini pencegahan penyakit lettospirosis. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan pertama kalinya yang ia dan tim dari Puskesmas II Kecamatan Cilongok lakukan. Dilaksanakan di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari Kecamatan Cilongok kabupaten Banyumas, ratusan siswa dari kelas 3 sampai 6 mengikuti kegiatan tersebut.

Dijelaskan dalam kegiatan, penyakit tersebut sudah memakan korban yang ada di kecamatan Cilongok dan Kabupaten Banyumas.

“Penyakit ini sudah merambah ke kecamatan Cilongok, yaitu di desa Panusupan dan sudah ada 1 korban,” jelasnya.

Selain itu penyakit lettospirosis, menyerang dari berbagai kalangan. Mulai dari petani sampai analisis dam dari balita, muda, hingga tua.

“Berbagai jenis tikus ada di sekitar kita, mulai dari tikus rumah, got, dan bahkan tikus sawah. Selain itu penyebaran penyakitnya pun sangat mudah ditemui. Mulai dari gigitan atau air ludah, air kencing tikus, kotoran tikus,darah tikus, dan pinjal tikus,” Jelas dia.

Basuki juga menjelaskan, banyak cara agar penyakit tersebut tidak merebah. Pencegahan tersebut menurutnya adalah dengan memelihara kebersihan lingkungan, menyimpan makanan agar terhindar dari tikus, mencuci tangan sebelum makan, mencuci kaki sehabis bekerja di sawah, dan membersihakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tikus, terutama yang berada di sekitar kita.

“Pengendalian tikus bisa dilakukan secara fisik semisal gropyokan, perangkap hidup, perangkap mati, TBS, dan berburu tikus. Bisa juga dilakukan secara biologi atau hayati sebagai contoh ular, anjing dan sebagainya. Adapun secara kimiawi bisa dilakukan dengan umpan beracun, fumigasi, zat penarik, zat penolak, dan pemandul,” sambungnya.

Adib Khusen selaku kepala MI Ma’arif NU 2 Langgongsari kecamatan Cilongok menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Ini sangat penting karena tanpa kita sadari penyakit tersebut berada di sekitar kita. Alangkah baiknya mengetahui sejak dini, agar kita bisa mencegah dan mengendalikan penyakit tersebut. Selain itu anak-anak sekarang mendapat pelajaran dan tugas baru, yaitu turut mensosialisasikan pencegahan penyakit tersebut.” pungkasnya seusai kegiatan. (Fajar Pujianto/ Pendidik di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari)

 

FORUM TBM BANYUMAS TERUS BERGERAK

Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Banyumas dalam menjalankan misinya tidak lepas dari kreatifitas anggota yang ada di dalamnya.

Pada bulan Maret ini, FTBM Banyumas yang dikomandoi oleh Bapak Heru Kurniawan kembali bergerak dan berkreasi dengan mengadakan kegiatan.

Sebelumnya, FTBM Banyumas pernah mengadakan berbagai kegiatan, antara lain :

Pertama, Pelatihan Manajemen TBM di Perpusarda. Kedua, Festival Dongeng TBM Banyumas di Kalbamas. Ketiga, Workshop Kepenulisan di SKB Purwokerto. Keempat, Seminar Membangun Jejaring di OJK Purwokerto, dan kelima Seminar Kerelawanan di Dinas Pendidikan Kab. Banyumas.

Kali ini, kegiatan keenamnya adalah BEDAH BUKU PERDANA .

Bedah buku ini akan mengupas tuntas hasil karya Bapak Riyadi dan Thomas Utomo, anggota Forum TBM Banyumas yang penuh dengan kreatifitas.

Kita akan duduk bersama, mendiskusikan berbagai hal tentang pembuatan sebuah karya, penulisan diberbagai media, cara memulai penulisan bagi pemula, sampai ke dalam proses pembukuan.

Nah bgaimana agar bisa seperti mereka?

Andalah yang kami butuhkan untuk mengambil bagian dalam perubahan bangsa ini. Bangsa yang penuh dengan karya.

Segera daftar, silakan hubungi kontak person yang tersedia. (*)

Tim Takraw MIMA NU 2 Langgongsari Kembali Meraih Prestasi

All Tim Sepak Takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari

Tim Sepak Takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari Kecamatan Cilongok membawa pulang piala pada Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) Kabupaten Banyumas. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Olahraga (GOR) Arcamas Purwokerto, Kamis (23/3/2017).

Pada kegiatan tersebut, MI Ma’arif NU 2 Langgongsari mewakili kontingen MI se kecamatan Cilongok. Sebelumnya Tim Takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari berhasil menjadi juara pertama pada ajang sama di tingkat kecamatan Cilongok, Rabu (25/1/2017).

Semenjak adanya kejuaraan Aksioma, MI Ma’arif NU 2 Langgongsari berhasil menjadi juara bertahan di tingkat kecamatan Cilongok. Kemenangan tersebut tidak lepas dari peranan seluruh elemen MI Ma’arif NU 2 Langgongsari. Semangat dari para siswa pun tidak luput dari peranannya. Sepak takraw merupakan olahraga yang sudah menjadi kebiasaan para siswa sebelum atau setelah selesai mengikuti pelajaran.

Menjadi Juara di Tingkat Kecamatan Cilongok

Aksioma Tingkat Kecamatan Cilongok

Pada tahun pelajaran 2016/2017, kembali menunjukkan agresifitasnya. Kali ini diwakili oleh Syarif Hidayatulloh (5), As’ad Syifa Nurul Azmi (5), Ibdaul Rizal (5), Tri Muzaki (5), dan Eki Nur Fauzi (4). Mereka berhasil mengalahkan perwakilan Madrasah Ibtidaiyah se kecamatan Cilongok. Tidak mudah memang, mereka harus berjibaku melawan 20 Madrasah Ibtidaiya (MI) yang terbagi dalam beberapa grup. Kegiatan tersebut ketika itu dilaksanakan di lapangan desa Kasegeran Kecamatan Cilongok, Banyumas.

Mewakili Kontingen Kecamatan Cilongok

Pertandingan Perempat Final

Keberhasilan Tim Takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari pada kejuaran Aksioma tingkat Kecamatan Cilongok, menjadikan mereka harus mewakili kontingen kecamatan Cilongok pada ajang yang sama ditingkat kabupaten Banyumas.

Dengan semangat yang tinggi, tim takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari  barangkat pada kejuaraan Aksioma tingkat kabupaten Banyumas. Kegiatan tersebut bertempat di gedung olaraga (GOR) Arcamas Purwokerto.

Berdasarkan nomor undi yang diterima, tim takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari mendapat nomor undi 17. Itu artinya menurut bagan pertandingan yang telah disediakan oleh panitia, kami harus melalui babak pra. Untuk mencapai final, kamipun harus melalui 5 pertandingan.

Pada babak pra melawan kontingen kecamatan Kembaran, kami berhasil meraih kemenangan (2:0). Pada pertandingan selanjutnya melawan tim dari kontingen kecamatan Sokaraja, kami juga berhasil meraih kemenangan (2:0). Kamipun melaju pada babak perdelapan final. Pada babak tersebut, melawan kontingen Purwokerto Barat, alhamdulillah kami berhasil memperoleh kemenangan (2:0). Selanjutnya, kami melaju pada babak perempat final.

Wasil dan Official Perandingan Beserta Pesrta

Pada babak perempat final melawan kontingen kecamatan Karanglewas, kami benar-benar diuji. Betapa tidak, pada babak pertama kami kalah dengan skor 21:19. Untuk mencapai final, kami harus memaksa untuk menang pada babak kedua dan babak tambahan. Naas bagi kami, pada babak kedua banyak kesalahan mendasar yang kami lakukan. Sehingga kami harus menyerah dengan skor 21:19. Itu artinya kami harus berhenti dibabak perempat final. Kamipun harus mengakui keunggulan mereka.

Pengumuman kejuaraan

Setelah selesai pertandingan, pengumuman kejuaraan dilakukan. Berdasarkan skor yang diperoleh. Kami berhasil mendapat juara ketiga pada lomba tersebut.

Kepala Madrasah beserta Tim Sepak Takraw MIMA NU 2 Langgongsari

Penyerahan piala dari peserta lomba kepada pihak madrasah, dilaksanakan dalam upacara bendera di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari, Senin (27/3/2017). Dalam penyerahan tersebut, Adib Khusen, S.Pd.I selaku kepala madrasah menyampaikan tentang kegiatan madrasah. Selain itu dia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta yang telah berjuang dalam perlombaan tersebut.

Penyerahan Piala

“Sebagai bentuk apresiasi, kami berikan piagam penghargaan dan uang pembinaan,” kata dia.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/menyoroti-kegiatan-porsema-banyumas/

“Semoga kedepan lebih baik lagi, sehingga trofi kemenangan dapat kita raih kembali,” pungkasnya mengahiri sambutan.

Kami berharap semoga kedepan dapat mempertahankan kemenangan di tingkat kecamatan Cilongok dan dapat kembali menjadi jawara di tingkat kabupaten Banyumas. Dan semoga kejuaraan Aksioma dapat menjadi barometer tumbuhnya bakat-bakat atlet dari Madrasah Ibtidaiyah baik di kecamatan Cilongok maupun kabupaten Banyumas. (Fajar Pujianto/ Official Tim Sepak Takraw MI Ma’arif NU 2 Langgongsari)

Juga ditulis di :

http://mimanudualanggongsari.blogspot.co.id/2017/03/tim-sepak-takraw-bawa-piala-kejuaraan.html

Menyoroti Kegiatan Porsema Banyumas

                        Pembukaan Porsema

Pekan Olahraga dan Seni Madrasah (Porsema) kabupaten Banyumas, telah terlaksana pada hari ini (23/2). Kegiatan tersebut diadakan oleh Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Banyumas. Dilaksanakan di kompleks MI Ma’arif NU Kaliwangi Kecamatan Purwojati, Banyumas.

Jenis-jenis lomba yang diperebutkan antara lain kaligrafi, puisi religi putra dan putri, tenis meja beregu putra dan putri, marathon 5 KM Putra dan putri, catur putra dan putri, dan pencak silat wiraloka putra dan puri, serta pidato bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Kegiatan tersebut, tidak hanya mengadu kemampuan masing-masing peserta. Tetapi, mereka juga beradu kekuatan fisik dan mental. Seperti lomba yang satu ini, LARI MARATHON 5 KM. Mereka harus kuat dalam beradu kekuatan dan kecepatan.

Kekuatan? Yaa, kekuatan.

Sebelum mereka menginjak garis start, terlebih dahulu hujan mengguyur begitu lebat. Akhirnya, mereka harus berteduh agar tidak kehujunan. Mereka berteduh di sekitar Puskesmas Kecamatan Purwojati.

Rintik-rintik hujan sedikit mereda. “Pritttt,” terdengar suara peluit di pinggir jalan, tapat digaris start. Peserta marathon kembali ke tempat perlombaan. Mereka bersiap untuk beradu kecepatan. Mendapat kesempatan pertama adalah peserta perempuan. Peluit itu kembali berbunyi, pertanda mereka memulai melangkahkan kaki untuk menuju garis finish.

10-15 menit berselang. Para peserta laki-laki bersiap. Peluit itu kembali berbunyi untuk ketiga kalinya. “Astaghfirulloh,” mungkin kata itu pantas diucapkan. Melihat dari sisi kanan garis start. Nampak peserta berbondong-bondong terjatuh. Mungkin itu tidak disengaja. Tapi itu sangat membahayakan.

Menurut salah satu peserta yang terjatuh,(tidak saya sebutkan namanya) dia terdorong dari belakang, akhirnya menabrak yang depan. Dan beberapa peserta terjatuh. Alhasil, ada salah satu peserta yang kakinya luka. Namun, peserta tersebut enggan keluar dari arena lomba. Dia bangun dan berlari.

Mereka Tetap Bersemangat

Di bawah rintikan hujan yang semakin membasahi permukaan jalan. Peserta marathon tetap teguh pada pendiriannya, yaitu melanjutkan sampai garis finish. Saya mencoba mengikuti mereka dari belakang. Tertutup rapat sudah tubuh ini oleh mantrol. Yang saya ambil dari bagasi motor punya salah satu guru di tempat saya mengabdi.

Hujan semakin deras, disertai dengan petir kecil. Orang sering menyebutnya dengan kata “Beledegh”. Nampak peserta ada yang sudah mulai berjalan, ada juga yang berhenti sejenak, dan ada juga yang masih dengan semangatnya berlari.

Di tengah perjalanan, mereka juga harus berhati-hati. Kenapa? Yaa, karena kondisi jalan yang mereka lewati tidak seperti aspal di sirkuit balapan sepeda/mobil. Mereka melewati jalan yang berlubang, tidak rata, dan becek. Diperparah dengan adanya genangan air di setiap lubang jalan. Membuat mereka harus sangat berhati-hati.

Walau tidak semua jalan yang dilalui seperti itu, tetapi kondisi hujan yang sangat deras, membuat mereka harus menghela nafas dalam-dalam. Melihat sekujur tubuh peserta basah kuyup. Sepatu yang tadinya enak dibawa lari, kini semakin berat. Sepatu mereka terisi oleh air kotor dari jalanan. Dan juga dari tetesan air dari pakaian yang mereka kenakan. Serta dari air langit yang langsung masuk ke dalam lubang sepatu mereka.

Peserta Mulai Tumbang

Kondisi fisik mereka juga harus kuat dalam lomba ini, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi, terlihat dari belakang, mobil pembawa peserta mulai terisi. Itu pertanda peserta mulai ada yang tidak sanggup untuk melanjutkan perlombaan. Mereka mengimpikan sampai garis finish, namun kondisi fisik sangat berpengaruh. Akhirnya mereka harus dibawa oleh mobil pengangkut peserta.

Hujan Mulai Mereda

Jarak sekitar 1 KM dari garis finish, hujan mulai mereda. Para peserta yang masih kuat terlihat ada yang terpincang-picang, ada yang berjalan, bahkan ada yang masih kuat untuk berlari. Mereka sangat bersemangat dan sangat antusias terhadap kegiatan ini. Walau kelelahan nampak dari muka mereka yang memerah dan tubuh yang lemas.

Dan akhirnya, sampailah digaris finish. Senyum para peserta terlihat jelas dibalik keletihan yang mereka rasakan. Jarak peserta yang pertama menyentuh garis finish sangat jauh dengan peserta terakhir yang menyentuh garis finish. Para pembina damping merasa lega dan bangga atas pencapaian para peserta didiknya. Walau tidak semuanya menjadi juara, tetapi saya bersyukur. Karena peserta bisa dengan selamat sampai garis finish.

Adapun perlombaan ini kategori putra berhasil diraih oleh MI Ma’arif NU 2 Sidamulih sebagai juara pertama. Disusul oleh MI Robithotut Thalamidz diurutan kedua, dan MU Ma’arif NU 1 Banjarsari diurutan ketiga. Sedangkan kategori putri berhasil diraih oleh MI Ma’arif NU 1 Pekuncen sebagai juara 1, MI Ma’arif NU 1 Pageraji sebagai juara 2, dan MI Darul Hikmah sebagai juara 3.

Dari sini kita dapat melihat, bahwa semangat peserta didik sangatlah besar. Mereka mempunyai jiwa sportif dan bertanggungjawab. Yaitu sampai digaris finish. Mereka harus melawan rasa dingin. Basah sekujur tubuh tidak membuat mereka putus asa. Jarak yang begitu jauh tidak membuat mereka merasa gentar.

Saya yakin, apabila atmosfer seperti ini terus dibangun, bukan tidak mungkin mereka akan meraih prestasi disetiap bidang lomba. Dan tentunya harus diimbangi dengan kemampuan yang mumpuni. Dengan mindset mereka untuk terus berusaha demi mencapai hal yang dicita-citakan, kita harus yakin, kesuksesan akan mereka raih.

Antara Fati’ah Fidiyanti dan Rumah Baca Asmanadia Sumbang

 

SUMBANG- Dewasa ini anak-anak mulai terjangkit virus-virus yang ada di televisi maupun media sosial lainnya. Salah satunya yakni semakin alaynya mereka disetiap tingkah laku maupun penampilan setiap hari.

Melihat kondisi seperti ini, Fati’ah Fidiyanti seorang karyawan swasta salah satu restaurant di Purwokerto tidak tinggal diam. Perempuan kelahiran Banyumas 26 tahun tepatnya tanggal 12 Agustus 1990 ini merintis sebuah rumah baca di tempat tinggalnya. Keterbatasan dana membuat ia berpikir keras untuk mendirikan rumah baca tersebut. Setelah mencari informasi lewat media sosial, ketemulah denan Tim Rumah Baca Asmanadia, sebuah rumah baca di bawah Asmanadia pusat di Jakarta.

(Fati’ah Fidiyanti yang terkenal “kegapyakannya’)

Bertempat di rumahnya desa Tambaksogra RT 03 RW 01 kecamatan Sumbang, Banyumas Rumah Baca Asmanadia ini didirikan. Bertepatan tanggal 22 Mei 2016, RBA (Rumah Baca Asmanadia Rumah Baca Asmanadia ) Sumbang diresmikan oleh kepala desa setempat dan disaksikan oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, sekolah terdekat dan juga masyarakat sekitar.

Rupanya Fati’ah Fidiyanti tidak sendirian dalam berjuang. Dengan ditemani sahabatnya, ia mengadakan kegiatan pertamanya yaitu pelatihan penulisan yang dihadiri langsung oleh Widia Berlian Alkalabi, beliau adalah salah satu penulis best seller “Aku Tak Menyerah” yang juga sahabat Asmanadia. Kegiatan ini juga yang mempertemukannya dengan teman-teman semasa sekolah yang akhirnya jadi relawan RBA Sumbang.

Fati’ah Fidiyanti, ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga mensukseskan Gerakan Indonesia Membaca di Kabupaten Banyumas khususnya di lingkungannya ia tinggal. “saya hanya lulusan SMK kerjapun bukan di lingkungan pendidikan, tapi saya ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensukseskan GIM di lingkungan maupun di kabupaten ini bersama para sahabat melalui Rumah Baca Asmanadia Sumbang”. Jelasnya.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/guna-melaksanakan-program-kerjanya-rumah-baca-kartini-gaet-aktivis/

Rupa-rupanya semangatnya kian membara setelah berdatangan pegiat-pegiat literasi dari kabupaten Banyumas, seperti Bapak Fuad Arifin dan Tim dari Perpusarda Kabupaten Banyumas. Sedangkan dari luar kabupaten Banyumas yakni Bapak Ridwan Sururi dari Purbalingga yang terkenal dengan kuda bacanya. Akhir-akhir ini bersama perwakilan SD dan SMP dengan perpustakaan terbaik di kabupaten Banyumas, mereka berkesempatan berkunjung ke perpustakaan nasional (Perpusnas) RI di Jakarta guna mendapatkan bantuan buku-buku bacaan.

(Kedatangan Bapak Fuad Arifin dan Tim dari Perpusarda Banyumas memberi semangat tersendiri bagi mereka)

“Alhamdulillah kami didatangi orang-orang hebat pegiat literasi, kami juga kemarin dari Perpusnas RI guna mendapat bantuan buku bersama satu SD dan satu SMP terbaik dalam bidang perpustakaan di Kabupaten Banyumas”. Katanya.

Kegiatan rutinitas di RBA tidak hanya peminjaman buku, membaca dan menggambar, tetapi ada kegiatan lainnya seperti kelas memasak, folding balon, games, kreasi botol bekas, lapak baca, dan kampung membaca.

(Salah satu hasil karya anak-anak RBA Sumbang)

“Kami mempunyai kegiatan rutinitas yaitu peminjaman buku, membaca dan menggambar. Sedangkan untuk kegiatan lainya yakni kelas memasak, folding balon, games, kreasi botol bekas, lapak baca, dan kampung membaca.” Katanya sembari menunjukkan beberapa hasil kreasi anak-anak RBA Sumbang.

                   (Lapak Baca di Purwokerto)

“untuk kegiatan lapak baca kami pernah melakukannya di alun-alun Purwokerto dan beberapa tempat umum lainnya, sedangkan untuk kampung membaca kami adakan di desa kami dan desa-desa sekitar.” Imbuhnya.

RBA Sumbang dibuka setiap hari mulai jam 15.00 sampai 17.00 WIB, sedangkan untuk hari minggu dibuka mulai jam 08.00-17.00 WIB. Khusus untuk hari minggu digunakan untuk berbagai kegiatan.

GUNA MELAKSANAKAN PROGRAM KERJANYA, RUMAH BACA KARTINI GAET AKTIVIS

Khusnul Khotimah Beserta Camat Karanglewas

BANYUMAS-Khusnul Khotimah (24), wanita kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 04 Mei 1992 ini telah mendirikan Rumah Baca Kartini 5 bulan yang lalu, (22/10/2016). Rumah Baca Kartini sendiri terletak di desa Karangkemiri RT 02 RW 01 Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Saat ini, Rumah Baca Kartini tengah menjalankan visi misinya.

Dengan visi Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berwawasan Luas, Cerdas dan Berakhlakul Karimah. Guna mewujudkan visi misinya, Rumah Baca Kartini membuka Bimbingan Belajar, Kursus Bahasa Inggris dan Kelas Menulis yang disediakan secara gratis.

Rumah Baca Kartini Tampak Depan

“Kami ingin anak-anak di desa bisa memanfaatkan waktunya untuk belajar dan bermain di Rumah Baca Kartini. Menciptakan lingkungan yang positif merupakan salah satu motivasi agar anak-anak mau belajar,” ungkapnya.

Bimbingan belajar (bimbel) dibuka setiap hari Senin dan Selasa untuk usia TK, dengan program CALISTUNG (Baca Tulis Hitung). Setiap hari Rabu dan Kamis digunakan untuk anak SD kelas 1 dan 2. Dan setiap hari Kamis dan Jum’at malam digunakan untuk bimbingan belajar kelas 3 SD sampai SMP.

Adapun kegiatan kelas menulis, dilaksanakan setiap hari Jum’at. Sedangkan kursus bahasa Inggris dilaksanakan setiap hari Minggu.

Kegiatan Bimbingan Belajar

“Kegiatan bimbel dibantu oleh remaja desa dan komunitas Bina Ceria dari Unsoed. Selain itu, ada juga aktifis organisasi berjiwa sosial yang tinggi sebagai tutor.  Karena semua tutor tidak ada yang mendapat bayaran,” kata Khusnul Khotimah.

“Dengan adanya bimbingan belajar, banyak anak yang tadinya tidak mau mengaji, jadi rajin berangkat mengaji. Karena bimbingan belajar dilaksanakan usai kegiatan mengaji,” sambungnya.

Rumah Baca Kartini membagi program kerja dalam beberapa golongan. Sesuai dengan sumber daya yang ada, dibedakan menjadi 3, yaitu : anak-anak, remaja, dan dewasa dan orang tua.

Kategori Anak-anak

Kategori anak-anak yaitu kegiatan bimbingan belajar dan kelas menulis. Selain bimbingan belajar, kursus bahasa Inggris, dan kelas menulis, untuk kategori remaja remaja sedang membuat Majalah Dinding (Mading). Mading tersebut berguna untuk menampilkan hasil karya anggota Rumah Baca Kartini dan memberikan informasi terkini. Dan akan diupdate setiap dua minggu sekali. Adapun konsepnya dibuat setiap seminggu sekali sesuai dengan tema oleh relawan Rumah Baca Kartini.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/pegiat-literasi-kabupaten-banyumas-ikuti-workshop-automasi-perpustakaan/

Sedangkan untuk kategori dewasa dan orangtua, masih dalam proses perencanaan oleh pengurus dan relawan.

Pengunjung Rumah Baca Kartini setiap harinya mencapai 40 orang.

“Harapan kami dengan banyaknya kegiatan di Rumah Baca Kartini, masyarakat mempunyai antusias untuk berkunjung dan dapat meningkatkan minat baca masyarakat,” pungkasnya. (Fajar Pujianto/ Pegiat Taman Baca Banyumas)

Pegiat Literasi Kabupaten Banyumas, Ikuti Workshop Automasi Perpustakaan

Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas mengadakan Workshop Automasi Perpustakaan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at (17/3/2017), atas kerjasama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Banyumas.

Workshop Automasi Perpustakaan diikuti oleh 20 peserta. Masing-masing peserta berasal dari berbagai instansi, baik formal maupun non formal. 20 peserta tersebut antara lain berasal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Sanggar Kegiatn Belajar (SKB), Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Banyumas.

Peserta dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Banyumas berfoto bersama para pemateri

Hadir sebagai nara sumber, Djoko Prasetyo, Aris Kurniawan, dan Faturrohman Rosidi. Mereka adalah pustakawan yang sudah mahir dibidangnya.

Fuad Arifin selaku Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas,  yang diiwakili oleh Ririn selaku Kepala Seksi Pengembangan dan Kerjasama Perpustakaan dalam sambutannya mengatakan, perlunya peningkatan kompetensi pustakawan pada masing-masing instansi.

“Tujuan Workshop Automasi Perpustakaan adalah dalam rangka meningkatkan kompetensi petugas perpustakaan pada masing-masing instansi. Baik di Sekolah, Perguruan Tinggi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), maupun di Sanggar Kelompok Belajar (SKB),” pungkasnya.

Djoko Prasetyo dalam pemaparannya mengatakan, Senayan Library Management System  (SliMS) merupakan perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3.

”Aplikasi web yang dikembangkan dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Jadi aplikasi ini membantu pustakawan dalam menyalesaikan pekerjaannya,” kata dia.

Baca Juga : http://www.infofajar.com/3-langkah-sukses-menghadapi-ujian/

“Untuk memudahkan interaktivitas pengguna, aplikasi ini memakai teknologi AJAX untuk tampilannya di peramban. Genbarcode untuk pembuatan barcode. PhpThumb untuk menampilkan gambar. Dan tinyMCE untuk menyunting teks berbasis web,” jelasnya dalam pemaparan materi. (Fajar Pujianto/ Pegiat Taman Baca Kabupaten Banyumas)