Antara Fati’ah Fidiyanti dan Rumah Baca Asmanadia Sumbang

 

SUMBANG- Dewasa ini anak-anak mulai terjangkit virus-virus yang ada di televisi maupun media sosial lainnya. Salah satunya yakni semakin alaynya mereka disetiap tingkah laku maupun penampilan setiap hari.

Melihat kondisi seperti ini, Fati’ah Fidiyanti seorang karyawan swasta salah satu restaurant di Purwokerto tidak tinggal diam. Perempuan kelahiran Banyumas 26 tahun tepatnya tanggal 12 Agustus 1990 ini merintis sebuah rumah baca di tempat tinggalnya. Keterbatasan dana membuat ia berpikir keras untuk mendirikan rumah baca tersebut. Setelah mencari informasi lewat media sosial, ketemulah denan Tim Rumah Baca Asmanadia, sebuah rumah baca di bawah Asmanadia pusat di Jakarta.

(Fati’ah Fidiyanti yang terkenal “kegapyakannya’)

Bertempat di rumahnya desa Tambaksogra RT 03 RW 01 kecamatan Sumbang, Banyumas Rumah Baca Asmanadia ini didirikan. Bertepatan tanggal 22 Mei 2016, RBA (Rumah Baca Asmanadia Rumah Baca Asmanadia ) Sumbang diresmikan oleh kepala desa setempat dan disaksikan oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, sekolah terdekat dan juga masyarakat sekitar.

Rupanya Fati’ah Fidiyanti tidak sendirian dalam berjuang. Dengan ditemani sahabatnya, ia mengadakan kegiatan pertamanya yaitu pelatihan penulisan yang dihadiri langsung oleh Widia Berlian Alkalabi, beliau adalah salah satu penulis best seller “Aku Tak Menyerah” yang juga sahabat Asmanadia. Kegiatan ini juga yang mempertemukannya dengan teman-teman semasa sekolah yang akhirnya jadi relawan RBA Sumbang.

Fati’ah Fidiyanti, ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga mensukseskan Gerakan Indonesia Membaca di Kabupaten Banyumas khususnya di lingkungannya ia tinggal. “saya hanya lulusan SMK kerjapun bukan di lingkungan pendidikan, tapi saya ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensukseskan GIM di lingkungan maupun di kabupaten ini bersama para sahabat melalui Rumah Baca Asmanadia Sumbang”. Jelasnya.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/guna-melaksanakan-program-kerjanya-rumah-baca-kartini-gaet-aktivis/

Rupa-rupanya semangatnya kian membara setelah berdatangan pegiat-pegiat literasi dari kabupaten Banyumas, seperti Bapak Fuad Arifin dan Tim dari Perpusarda Kabupaten Banyumas. Sedangkan dari luar kabupaten Banyumas yakni Bapak Ridwan Sururi dari Purbalingga yang terkenal dengan kuda bacanya. Akhir-akhir ini bersama perwakilan SD dan SMP dengan perpustakaan terbaik di kabupaten Banyumas, mereka berkesempatan berkunjung ke perpustakaan nasional (Perpusnas) RI di Jakarta guna mendapatkan bantuan buku-buku bacaan.

(Kedatangan Bapak Fuad Arifin dan Tim dari Perpusarda Banyumas memberi semangat tersendiri bagi mereka)

“Alhamdulillah kami didatangi orang-orang hebat pegiat literasi, kami juga kemarin dari Perpusnas RI guna mendapat bantuan buku bersama satu SD dan satu SMP terbaik dalam bidang perpustakaan di Kabupaten Banyumas”. Katanya.

Kegiatan rutinitas di RBA tidak hanya peminjaman buku, membaca dan menggambar, tetapi ada kegiatan lainnya seperti kelas memasak, folding balon, games, kreasi botol bekas, lapak baca, dan kampung membaca.

(Salah satu hasil karya anak-anak RBA Sumbang)

“Kami mempunyai kegiatan rutinitas yaitu peminjaman buku, membaca dan menggambar. Sedangkan untuk kegiatan lainya yakni kelas memasak, folding balon, games, kreasi botol bekas, lapak baca, dan kampung membaca.” Katanya sembari menunjukkan beberapa hasil kreasi anak-anak RBA Sumbang.

                   (Lapak Baca di Purwokerto)

“untuk kegiatan lapak baca kami pernah melakukannya di alun-alun Purwokerto dan beberapa tempat umum lainnya, sedangkan untuk kampung membaca kami adakan di desa kami dan desa-desa sekitar.” Imbuhnya.

RBA Sumbang dibuka setiap hari mulai jam 15.00 sampai 17.00 WIB, sedangkan untuk hari minggu dibuka mulai jam 08.00-17.00 WIB. Khusus untuk hari minggu digunakan untuk berbagai kegiatan.

GUNA MELAKSANAKAN PROGRAM KERJANYA, RUMAH BACA KARTINI GAET AKTIVIS

Khusnul Khotimah Beserta Camat Karanglewas

BANYUMAS-Khusnul Khotimah (24), wanita kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 04 Mei 1992 ini telah mendirikan Rumah Baca Kartini 5 bulan yang lalu, (22/10/2016). Rumah Baca Kartini sendiri terletak di desa Karangkemiri RT 02 RW 01 Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Saat ini, Rumah Baca Kartini tengah menjalankan visi misinya.

Dengan visi Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berwawasan Luas, Cerdas dan Berakhlakul Karimah. Guna mewujudkan visi misinya, Rumah Baca Kartini membuka Bimbingan Belajar, Kursus Bahasa Inggris dan Kelas Menulis yang disediakan secara gratis.

Rumah Baca Kartini Tampak Depan

“Kami ingin anak-anak di desa bisa memanfaatkan waktunya untuk belajar dan bermain di Rumah Baca Kartini. Menciptakan lingkungan yang positif merupakan salah satu motivasi agar anak-anak mau belajar,” ungkapnya.

Bimbingan belajar (bimbel) dibuka setiap hari Senin dan Selasa untuk usia TK, dengan program CALISTUNG (Baca Tulis Hitung). Setiap hari Rabu dan Kamis digunakan untuk anak SD kelas 1 dan 2. Dan setiap hari Kamis dan Jum’at malam digunakan untuk bimbingan belajar kelas 3 SD sampai SMP.

Adapun kegiatan kelas menulis, dilaksanakan setiap hari Jum’at. Sedangkan kursus bahasa Inggris dilaksanakan setiap hari Minggu.

Kegiatan Bimbingan Belajar

“Kegiatan bimbel dibantu oleh remaja desa dan komunitas Bina Ceria dari Unsoed. Selain itu, ada juga aktifis organisasi berjiwa sosial yang tinggi sebagai tutor.  Karena semua tutor tidak ada yang mendapat bayaran,” kata Khusnul Khotimah.

“Dengan adanya bimbingan belajar, banyak anak yang tadinya tidak mau mengaji, jadi rajin berangkat mengaji. Karena bimbingan belajar dilaksanakan usai kegiatan mengaji,” sambungnya.

Rumah Baca Kartini membagi program kerja dalam beberapa golongan. Sesuai dengan sumber daya yang ada, dibedakan menjadi 3, yaitu : anak-anak, remaja, dan dewasa dan orang tua.

Kategori Anak-anak

Kategori anak-anak yaitu kegiatan bimbingan belajar dan kelas menulis. Selain bimbingan belajar, kursus bahasa Inggris, dan kelas menulis, untuk kategori remaja remaja sedang membuat Majalah Dinding (Mading). Mading tersebut berguna untuk menampilkan hasil karya anggota Rumah Baca Kartini dan memberikan informasi terkini. Dan akan diupdate setiap dua minggu sekali. Adapun konsepnya dibuat setiap seminggu sekali sesuai dengan tema oleh relawan Rumah Baca Kartini.

http://Baca Juga : http://www.infofajar.com/pegiat-literasi-kabupaten-banyumas-ikuti-workshop-automasi-perpustakaan/

Sedangkan untuk kategori dewasa dan orangtua, masih dalam proses perencanaan oleh pengurus dan relawan.

Pengunjung Rumah Baca Kartini setiap harinya mencapai 40 orang.

“Harapan kami dengan banyaknya kegiatan di Rumah Baca Kartini, masyarakat mempunyai antusias untuk berkunjung dan dapat meningkatkan minat baca masyarakat,” pungkasnya. (Fajar Pujianto/ Pegiat Taman Baca Banyumas)

Pegiat Literasi Kabupaten Banyumas, Ikuti Workshop Automasi Perpustakaan

Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas mengadakan Workshop Automasi Perpustakaan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at (17/3/2017), atas kerjasama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Banyumas.

Workshop Automasi Perpustakaan diikuti oleh 20 peserta. Masing-masing peserta berasal dari berbagai instansi, baik formal maupun non formal. 20 peserta tersebut antara lain berasal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Sanggar Kegiatn Belajar (SKB), Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Banyumas.

Peserta dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Banyumas berfoto bersama para pemateri

Hadir sebagai nara sumber, Djoko Prasetyo, Aris Kurniawan, dan Faturrohman Rosidi. Mereka adalah pustakawan yang sudah mahir dibidangnya.

Fuad Arifin selaku Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas,  yang diiwakili oleh Ririn selaku Kepala Seksi Pengembangan dan Kerjasama Perpustakaan dalam sambutannya mengatakan, perlunya peningkatan kompetensi pustakawan pada masing-masing instansi.

“Tujuan Workshop Automasi Perpustakaan adalah dalam rangka meningkatkan kompetensi petugas perpustakaan pada masing-masing instansi. Baik di Sekolah, Perguruan Tinggi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), maupun di Sanggar Kelompok Belajar (SKB),” pungkasnya.

Djoko Prasetyo dalam pemaparannya mengatakan, Senayan Library Management System  (SliMS) merupakan perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3.

”Aplikasi web yang dikembangkan dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Jadi aplikasi ini membantu pustakawan dalam menyalesaikan pekerjaannya,” kata dia.

Baca Juga : http://www.infofajar.com/3-langkah-sukses-menghadapi-ujian/

“Untuk memudahkan interaktivitas pengguna, aplikasi ini memakai teknologi AJAX untuk tampilannya di peramban. Genbarcode untuk pembuatan barcode. PhpThumb untuk menampilkan gambar. Dan tinyMCE untuk menyunting teks berbasis web,” jelasnya dalam pemaparan materi. (Fajar Pujianto/ Pegiat Taman Baca Kabupaten Banyumas)

Om Telolet Om

“OM TELOLET OM,” seru Taufik dan teman-teman.

Taufik dan teman-teman terbiasa mengisi waktu sore di pinggir jalan. Begitu bus antar propinsi melintas, mereka berteriak kegirangan.

“Taufik siap-siap ada bus lagi,” seru Ismail.

Ismail yang sedari tadi memegang kardus. Kardus itu bertuliskan, “OM TELOLET OM”. Dia dengan sengaja membuat tulisan itu. Setiap sore kardus itu selalu di bawa.

“TELOLELOLETT…” bunyi klakson dari bus.

“Hore!” teriak mereka kegirangan.

Mereka sengaja meluangkan waktu seperempat sampai setengah jam. Mereka menikmati dahsyatnya suara bus antar propinsi. Rumah mereka juga tidak jauh dari jalan raya.

Tidak lama kemudian, mereka menuntaskan petualangannya.

“Taufik, ayo kita pulang,” sapa Ismail.

“Ayo teman-teman,” balasnya.

Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Taufik membersihkan badan.

Dia langsung belajar. Membuka buku pelajaran kesukaan. Matematika. Tidak lama berselang, bapaknya datang menghampiri. Dia duduk di sebelah kanannya.

“Nak, kamu tahu hari ini, hari apa?” tanya Suherman, orangtua Taufik.

“Tahu pak, ada apa pak?” ucapnya balik.

“Kamu masih suka telolet itu?” tanyanya lagi.

“Masih pak, malahan tadi habis nyari pak,” jawab Taufik.

“Bapak mau kasih sesuatu, tapi kamu harus janji!” kata bapak sambil menatap anaknya.

Taufik tidak langsung menjawab. Dia berfikiran bahwa, ayahnya akan marah. Namun, tidak seperti bayangan Taufik. Dia malah tersenyum.

“Kenapa nak, kok menatap bapak seperti itu?” tanyanya.

“Tidak apa-apa pak,” jawab Taufik.

“Nak, di jalan itu berbahaya. Kalau terjadi apa-apa siapa yang mau bertanggungjawab?” ucapnya seru.

Perkataan itu membuat Taufik menghembuskan nafas dalam-dalam. Dia menundukan kepalanya. Dia merasa bersalah. Dia sadar. Di jalanan memang berbahaya. Apalagi bagi seumuran mereka.

“Ya pak, saya mengerti,” jelasnya.

“Nak, ini sebagai gantinya. Ini juga sebagai hadiah ulang tahun yang ke 7. Bapak baru sempat memberikannya.” Ucap bapak sambil memberikan mainan kesukaannya.

“Alhamdulillah, terimakasih pak,” hela Taufik.

“Tapi janji, setelah ini, kamu hati-hati, di jalanan itu berr..”ucapnya setengah.

“bahaya!” balas Taufik cepat.

Usai diberikan hadih ulang tahun, bus mainan. Taufik tidak lagi bermain di pinggir jalan. Dia sangat senang dengan mainan itu. Teman-teman yang setiap hari menyambangi Taufik, kini bermain bersama. Mereka bermain di halaman rumah. Sampai-sampai bus mainannya ditulis “OM TELOLET OM”.

3 Langkah Sukses Menghadapi Ujian

Ujian Sekolah/ Madrasah  tahun pelajaran 2016/2017 sebentar lagi akan terlaksana.  Para siswa-siswi baik kelas VI, IX, maupun XII hendaknya sudah mempersiapkan diri sedini mungkin. Jangan sampai siswa-siswi tersebut bersantai, tanpa persiapan berarti. Mereka sitaknya sudah mulai digenjot dengan latihan-latihan soal ujian. Bahkan bila perlu mengadakan tryout mandiri. Masing-masing sekolahpun sudah mulai berlatih menghadapi ujian, itu pertanda genderang menuju kesuksesan sudah ditabuh.

Bagi siswa-siswi yang akan menempuh ujian, Ujian Sekolah/ Madrasah  sama dengan ujian hidup dan mati. Hal ini dikarenakan mereka menganggap masa depan bergantung pada ujian ini. Apabila mereka berhasil dan lulus, masa depan mereka akan semakin terbuka cerah. Akan tetapi, apabila mereka gagal dalam menempuh ujian ini, kehidupan mereka untuk menjadi orang berhasil dan sukses sudahlah tertutup rapat. Ujian Sekolah/ Madrasah  menjadi momok dan alasan siswa-siswi sekarang mudah stres. Apalagi bagi siswa-siswi setingkat SMA, ujian kali ini menggunakan sistem UNBK (Ujian Sekolah/ Madrasah  Berbasil Komputer). Pada tahun 2017 ini, semua sekolah menggunakan sistem tersebut. Itu merupakan suasa baru bagi sekolah yang pertama menggunakannya. Dan bukan tidak mungkin, mereka harus lebih siap dalam segala hal. Termasuk mempersiapkan konsentrasi, karena mereka menatap layar monitor dengan cahaya yang merangsek ke mata.

Agar berhasil dalam menghadapi ujian dan tidak stres, berikut ini 3 langkah yang harus ditempuh oleh para siswa :

  1. Dream

Para siswa-siswi harus berani bermimpi. Karena dengan mimpi, segala sesuatu yang tadinya sulit didapatkan, akan didapat dengan mudah untuk meraihnya.

Setidaknya setelah mereka lulus nanti, mereka mempunyai arah dan tujuan dalam hidup. Tidak semena-mena yang penting hidup dan sekolah atau bekerja, atau bahkan setelah lulus langsung menikah. Mereka harus kita suguhkan dengan mimpi-mimpi, agar mempunyai gambaran tentang masa depan mereka. Setidaknya, mereka diarahkan kemana mereka akan berlabuh setelah lulus dari sekolah tersebut. Jangan sampai mereka tidak mempunyai cita-cita dalam hidup. Dan sekolah hanya untuk kegiatan rutinitas semata. Guru merupakan orang tua mereka di sekolah, yang mereka anggap orang yang tau segalanya.

  1. PRAY

Dalam waktu 1 menit, manusia bernafas membutuhkan 10 liter oksigen. Dalam 1 hari, 10 liter oksigen dikali 60 menit dikali lagi 24 jam sama dengan 14.400 liter oksigen. Padahal harga 1 liter oksigen berkisar Rp. 25.000,00. Itu artinya dalam 1 hari kita membutuhkan uang sebanyak 360.000.000,00. Padahal setiap hari, dikasih secara Cuma-Cuma oleh sang Pencipta. Terkadang kita sebagai manusia terkadang lalai dalam menjadi ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dalam menghadapi ujian ini, siswa-siswi agar selalu tunduk, selalu berdo’a kepada sang Pencipta. Agar mereka diberi kemudahan dalam menghadapi ujian, dan kesuksesan yang akan mereka dapat.

  1. ACTION

Ingat! Perjalanan 1.000 mil, dimulai dari langkah pertama. Tidak pada langkah terakhir maupun di tengah. Jadi, anggaplah ini merupakan langkah pertama menuju kesuksesan.

“Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah,” kata Thomas Alfa Edison.

Apa yang menjadi cita-cita, mereka harus menulisnya. Karena kalau hanya di angan, maka akan dengan mudah pergi begitu saja. Lakukan dari sekarang dan mulailah dari satu tangga menuju tangga kesuksesan. Tidak ada kata terlambat. Ujian merupakan pintu gerbang, awal menuju kesuksesan. Yakinlah bisa mengerjakan soal tersebut, yakinlah bisa lulus dengan hasil memuaskan. Belajar dan belajarlah. Pasti, kesuksesan akan diraih.

Ketiga langkah tersebut, merupakan menu wajib agar siswa-siswi meraih kesuksesan. Siswa-siswi harus diberi motivasi, agar lebih mengetahui potensi yang ada pada dirinya. Dan juga, mereka harus lebih siap dalam menghadapi ujian Sekolah/ Madrasah . sebagai pendidik, guru setidaknya harus mengubah pola pikir mereka tentang ujian itu sendiri.

PERSETERUAN SEMUT DAN MANUSIA

Sekelompok semut sedang berada di pohon. Pohon yang sudah tua nan lapuk. Mereka merasakan seperti ada gempa. Bergoyang-goyang. Luar biasa dahsyat. Seperti mau roboh.

“Raja! Apa yang terjadi ini?” seru warga semut di sela-sela lubang kecil. Ketakutan.

“Tenang rakyatku, semua akan baik-baik saja,” jawab raja tegas.

“Prajurit!” seru raja.

“Siap raja!” jawab prajurit cepat.

“Lihat apa yang terjadi di luar sana,” perintah raja mengacungkan jari telunjuknya.

Bergegas prajurit menuju luar kolong-kolong pohon tua tersebut. Terlihat di bawah ada sesosok manusia. Manusia pembawa kapak. Dia menghantamkan kapaknya kepohon tua tersebut.

“Dogk dogk dogk,” suara tersebut terdengar jelas oleh si prajurit. Kapak itu menghantam keras rumah mereka.

Prajurit tersebut berlari kencang menghadap raja.

“Raja! Ada manusia sedang menebang pohon ini!” ucap prajurit ngos-ngosan.

Dia tidak sempat menghela nafas dalam-dalam. Takut sebentar lagi roboh rumah mereka.

“Tidak bisa dibiarkan! Aku akan bikin perhitungan!” ucap raja geram.

Kemudian, raja beserta prajurit keluar dari sarangnya. Turun dari pohon. Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyerang manusia tersebut. Agar manusia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu.

“Serang!” perintah raja lugas.

Mereka menyerang manusia itu dengan menggigitnya. Ada yang di bagian kaki, badan, tangan, dan kepala. Sontak. Manusia tersebut berhenti dari aktivitasnya. Menebang pohon tua.

“Au, au, au sakit,” ucap manusia itu seraya menggaruk dan menepis tubuhnya yang tergigit.

“Apa ini! gatal, sakit!” kata manusia tersebut sembari mengambil tepisan dari tubuhnya.

“Kau mut! Apa yang kau lakukan!” tanya manusia.

“Apa yang kau lakukan? Harusnya aku yang bertanya sama kamu, manusia!” ucap semut itu di balik tangan manusia itu.

Rupa-rupanya yang terkena tepisan itu adalah raja semut. Untung saja, raja terluka tidak terlalu parah. Raja tersebut bangkit dan berdiri di atas telapak tangan manusia itu.

“Ini rumah kami, kenapa kau tebang?” tanya raja mengacungkan jari.

“Pohon ini sudah tua, kalau roboh bisa membahayakan mahluk hidup lainnya,” jawab manusia polos.

Semut terdiam. Berfikir sejenak. Memfikirkan ucapan manusia.

“betul juga ya,” ucap semut dalam hati.

“Oke begini saja, kau boleh tebang pohon ini, tapi beri kami waktu untuk pindah,” sambung semut kepada manusia tersebut.

“Baiklah, silahkan kau kembali ke rumahmu dan aku pulang dari menebang pohon ini,” pungkas manusia.

Mereka akhirnya berdamai, semut tidak lagi menggigit manusia tersebut. Begitu juga dengan manusia. Dia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu. Raja beserta pasukannya mempersiapkan diri pindah tempat. Agar mereka hidup damai. Tidak ada yang mengganggu ketenangan mereka.

Seks Bebas Merajalela, KNPI Karanglewas Merumuskan Format Baru

KARANGLEWAS- Komite Nasional Pemda Indonesia (KNIP) Kecamatan Karaglewas Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah adakan kegiatan Dialog Publik. Kegiatan tersebut bertemakan ‘Merumuskan Format Penanggulangan Seks Bebas’. Dan dilaksanakan di Aula Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, Senin (11/3).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Banyumas, Dr. Budi Setiawan. Turut hadir yaitu Camat kecamatan Karanglewas, Kapolsek Karanglewas, Koramil Karanglewas, Kepala KUA Karanglewas, dan Kepala Puskesmas, serta Kepala UPK Karanglewas.

Sebagai keynote speaker dalam kegiatan itu adalah Direktorat Jendral Politik dan Pemerintahan Umum. Sementara Dr. Abdul Basith, M.Ag (ICMI Kabupaten Banyumas) dan Dr. Agus Ujianto (Praktisi Kesehatan) serta Tofik Hidayat, S.Ag (DPD KNPI Kabupaten Banyumas) tampil sebagai moderator dan narasumber.

Menurut Fathur Rozak selaku ketua KNPI Kecamatan Karanglewas menjelaskan, “lebih dari 100 orang dari lintas organisasi remaja dan pemuda serta Sekolah Menengah Kejuruan yang berada di Kecamatan Karanglewas turut sebagai peserta kegiatan. Tidak hanya itu, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berada di Purwokerto juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, wakil bupati Banyumas, dalam sambutannya menyampaikan, “Kami merasa prihatin dengan kejadian akhir-akhir ini yang terjadi pada remaja, terlebih bagi mereka yang masih di bawah umur. Rerata dari mereka adalah yang kurang perhatian dari orang sekitar, terutama orangtua. Salah satu pengaruhnya adalah hadirnya internet.” Kata dia.

“Aktiflah dalam organisasi, konsumsilah media yang baik, isilah dengan kegiatan-kegiatan positif, dan jadilah orang yang berkarakter,” pungkasnya mengakhiri sambutan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Jadi lebih bisa mendalami materi yang disampaikan. Ini menjad PR bagi kami agar bisa menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar kami,” kata Hendra Romadlon, peserta dari IPNU desa Babakan kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (Fajar Pujianto/ Komisi Pers dan Jurnalistik KNPI Kecamatan Karanglewas)

Peranan Pemuda dalam Membangun Desa

MENARIK. Satu kata untuk mengungkapkan pembangunan sebuah desa. Karena, desa adalah harapan kemajuan sebuah bangsa. Paradigma selama ini yang menganggap masyarakat desa adalah tertinggal, dan untuk sukses haruslah merantau ke kota besar.  Paradigma tersebut harus segera ditinggalkan. Oleh karena itu membangun sebuah desa adalah harga mati yang harus segera direalisasikan.

Semua elemen desa beserta masyarakat harus bersama-sama mewujudkan pembangunan desa yang arif dan bijaksana. Potensi desa yang tepat untuk menjadi penggerak desa adalah pemuda. Pemuda adalah peradaban sebuah bangsa. Untuk membangun sebuah peradaban, sudah saatnya pemuda menjadi lokomotif perubahan itu, agar menjadi bangsa yang madani.

Maka tidaklah heran jika Bung Karno sang plokamator menempatkan pemuda pada garda terdepan. Dengan sebuah kalimat yang pasti kita sudah pernah mendengar ataupun melihatnya.

“Berikanlah aku 1000 orang tua, maka akan aku cabut gunung Semeru, dan berikanlah aku 10 pemuda , maka akan aku guncang dunia,” kata beliau kala itu.

Kemajuan sebuah desa sulit dilepaskan dari keberadaan para pemudanya. Pemuda adalah aset masa depan. Pemuda adalah sumber energi atau kekuatan terbangunnya sebuah peradaban desa. Perannya sangat dibutuhkan guna melejitkan dinamika kehidupan desa.

Kata-kata tersebut bukan merupakan ungkapan yang tiada makna. Pujian-pujian Bung Karno terhadap para pemuda sangat bernada optimis. Dan telah mengindikasikan bahwa pemuda memiliki kelebihan tersendiri.

Namun, nada optimisme tersebut tampak mulai sumbang. Pemuda yang diharapkan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa, justru melakukan tindakan yang jauh dari leluhur nenek moyang. Terkubang dalam godaan pergaulan bebas, yang menjurus pada seks bebas, narkoba dan sejenisnya, tawuran, dan tindakan yang kurang membangun. Dengan kata lain, para pemuda tidak jarang dipandang sebagai perusak tatanan hidup bermasyarakat.

Dalam membangun sebuah desa, tugas pemuda tidaklah gampang. Karena permasalahan desa yang begitu kompleks, pemuda harus mampu menciptakan formula yang tepat.  Ramuan formula ini, berguna agar semangat perubahan dalam membangun desa tidak terbentur dengan kultur dan adat istiadat desa. Bukan tidak mungkin, ada miss persepsi cita-cita antara kaum tua dan pemuda desa itu sendiri. Seperti Bung Karno kala menentukan proklamasi kemerdekaan.

Menjadi penggerak desa, pemuda harus mampu bersinergi dan bekerja sama. Hal itu tidaklah mudah, karena membutuhkan komitmen yang kuat sebuah kebersamaan yang produktif. Bukan hanya istilah “makan nggak makan kumpul”. Akan tetapi lebih dari itu untuk sebuah cita-cita yang luhur.

Membangun desa sebagai langkah awal membangun sebuah peradaban negara. Membentuk dan nguri-uri  organisasi adalah keniscayaan. Karena dengan organisasi, pemuda akan memiliki kendaraan dalam memperjuangkan program-program pembangunan desa. Organisasi pemuda desa sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu dan terarah mendesak digalakkan.

Perangkat desa selama ini berkesan kurang kuasa dalam melakukan terobosan-terobosan baru, dalam memajukan desanya melalui organisasi pemuda desa. Lebih dari itu, keterlibatan pemuda desa yang tergerakkan dalam organisasi, akan menjadi kekuatan tak terpatahkan. Mereka mampu menjadi perangsang bagi program kerja yang telah dirumuskan oleh perangkat desa.

Atas dasar itu, pemuda terdidik haruslah menjadi garda terdepan. Dia harus menjadi satria pelopor perubahan desa. Ia juga yang mesti menjadi teladan bagi para pemuda yang secara pendidikan terbilang rendah. Ketika pemuda yang berpendidikan lebih tinggi dan berpendidikan rendah berkumpul, akan terjadi gesekan pembaharuan yang sangat bermanfaaat.

Mereka tidak akan menyerah begitu saja. Pemuda memiliki idealisme yang kuat dalam pembangunan desanya.  Membentuk dan nguri-uri organisasi bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan semangat persatuan, agar saling bahu membahu memajukan organisasi. Dilain sisi, dengan berorganisasi pemuda akan ada masalah baru. Seperti, pengakuan dan eksistensi oleh masyarakat, terarahnya kegiatan yang masif dan bukan kegiatan hura-hura semata, dan pendanaan organisasi sehingga mencukupi kebutuhan organisasi dalam menjalankan programnya.

Untuk itu, perlu adanya langkah-langkah yang bisa diambil dalam rangka memperkokoh perjuangan pemuda dalam membangun desa, antara lain :

Bersinergi dengan para sesepuh desa dan perangkat desa. Hal ini sangatlah perlu karena dalam sebuah desa sudah ada tatanan dan perundang-undangan baik yang tertulis maupunyang tidak tertulis.

  • Keterlibatan perangkat desa. Hal ini diperlukan karena menjadi cambuk penyemangat tersendiri bagi pemuda.
  • Membentuk dan atau menghidupkan organisasi yang ada. Organisasi berbeda dengan komunitas. Komunitas sewaktu-waktu bisa bubar. Organisasi mempunyai sistem manajerial dan administrasi serta kegiatan yang terarah dan terevaluasi.
  • Pengakuan dari masyarakat juga diperlukan. Organisasi yang baik harus jelas, terdaftar dan dikenal oleh masyarakat.
  • Memperkuat unsur pendanaan organisasi. Disamping semangat membangun, pendanaan merupakan ruh yang menggerakkan roda organisasi. Dana dapat diperoleh dari mana saja selagi baik dan tidak merugikan orang/pihak lain serta yang diperbolehkan oleh aturan agama dan negara.

Untuk mewujudkan semua itu, pemuda atau organisasi pemuda harus mampu membuat peta jalan (Road Map), semacam grand desain. Agar program pembangunan desa oleh pemuda dapat berjalan maksimal dan bermanfaat buat masyarakat. Dan yang terpenting , dapat merangkul semua elemen desa untuk berjuang bersama pemuda membangun desa itu sendiri. Karena pemuda tidak akan mampu berjalan sendiri.

Tim penggerak pembangunan desa harus mampu membuat program-program. Dan berdasarkan pada permasalahan yang ada, membuat konsep, serta mencari solusi yang telah ditentukan bersama. Program-program harus terarah, terukur, dan transparan.

Desa yang maju adalah harapan semua masyarakat. Desa madani adalah awal peradaban bangsa yang madani. Maka pemuda adalah harapan sebuah kemajuan desa dan bangsa pada umumnya.