PERSETERUAN SEMUT DAN MANUSIA

Sekelompok semut sedang berada di pohon. Pohon yang sudah tua nan lapuk. Mereka merasakan seperti ada gempa. Bergoyang-goyang. Luar biasa dahsyat. Seperti mau roboh.

“Raja! Apa yang terjadi ini?” seru warga semut di sela-sela lubang kecil. Ketakutan.

“Tenang rakyatku, semua akan baik-baik saja,” jawab raja tegas.

“Prajurit!” seru raja.

“Siap raja!” jawab prajurit cepat.

“Lihat apa yang terjadi di luar sana,” perintah raja mengacungkan jari telunjuknya.

Bergegas prajurit menuju luar kolong-kolong pohon tua tersebut. Terlihat di bawah ada sesosok manusia. Manusia pembawa kapak. Dia menghantamkan kapaknya kepohon tua tersebut.

“Dogk dogk dogk,” suara tersebut terdengar jelas oleh si prajurit. Kapak itu menghantam keras rumah mereka.

Prajurit tersebut berlari kencang menghadap raja.

“Raja! Ada manusia sedang menebang pohon ini!” ucap prajurit ngos-ngosan.

Dia tidak sempat menghela nafas dalam-dalam. Takut sebentar lagi roboh rumah mereka.

“Tidak bisa dibiarkan! Aku akan bikin perhitungan!” ucap raja geram.

Kemudian, raja beserta prajurit keluar dari sarangnya. Turun dari pohon. Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyerang manusia tersebut. Agar manusia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu.

“Serang!” perintah raja lugas.

Mereka menyerang manusia itu dengan menggigitnya. Ada yang di bagian kaki, badan, tangan, dan kepala. Sontak. Manusia tersebut berhenti dari aktivitasnya. Menebang pohon tua.

“Au, au, au sakit,” ucap manusia itu seraya menggaruk dan menepis tubuhnya yang tergigit.

“Apa ini! gatal, sakit!” kata manusia tersebut sembari mengambil tepisan dari tubuhnya.

“Kau mut! Apa yang kau lakukan!” tanya manusia.

“Apa yang kau lakukan? Harusnya aku yang bertanya sama kamu, manusia!” ucap semut itu di balik tangan manusia itu.

Rupa-rupanya yang terkena tepisan itu adalah raja semut. Untung saja, raja terluka tidak terlalu parah. Raja tersebut bangkit dan berdiri di atas telapak tangan manusia itu.

“Ini rumah kami, kenapa kau tebang?” tanya raja mengacungkan jari.

“Pohon ini sudah tua, kalau roboh bisa membahayakan mahluk hidup lainnya,” jawab manusia polos.

Semut terdiam. Berfikir sejenak. Memfikirkan ucapan manusia.

“betul juga ya,” ucap semut dalam hati.

“Oke begini saja, kau boleh tebang pohon ini, tapi beri kami waktu untuk pindah,” sambung semut kepada manusia tersebut.

“Baiklah, silahkan kau kembali ke rumahmu dan aku pulang dari menebang pohon ini,” pungkas manusia.

Mereka akhirnya berdamai, semut tidak lagi menggigit manusia tersebut. Begitu juga dengan manusia. Dia tidak lagi menebang pohon tua nan lapuk itu. Raja beserta pasukannya mempersiapkan diri pindah tempat. Agar mereka hidup damai. Tidak ada yang mengganggu ketenangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *