Ketika Website Desa Berbicara

INFO KITA – Kreatif dan inovatif adalah karakteristik yang terpatri kuat dalam jiwa kreativitas. Seseorang yang mempunyai jiwa kreativitas memiliki kemampuan berpikir dan dapat melakukan tindakan yang bertujuan untuk mencari pemecahan sebuah kondisi ataupun sebuah permasalahan secara cerdas, berbeda, tidak umum, orisinil, serta membawa hasil yang tepat dan bermanfaat.

Para Aktivis GDM Berfoto Usai Kegiatan

Menurut Zimmerer dkk (2009) kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam melihat masalah dan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan solusi kreatif terhadap masalah dan peluang untuk meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan orang-orang. Selanjutnya Ted Levitt (dalam Zimmerer, 2009) menyatakan bahwa kreativitas memikirkan hal-hal baru dan inovasi mengerjakan hal-hal baru. Jadi kreatif adalah sifat yang selalu mencari cara-cara baru dan inovatif adalah sifat yang menerapkan solusi kreatif.

Kreatif dan inovasi mungkin dapat dipandang sebagai upaya menganggu keseimbangan yang telah tercipta. Kreatif dan inovasi bisa juga diterapkan dengan cara sederhana. Kuncinya adalah kepekaan dalam mencium setiap peluang dan kemampuan membaca pasar agar tepat sasaran. Begitu juga dengan membangun desa, untuk mewujudkan desa yang mandiri dibutuhkan kretivitas dan inovasi dalam merealisasikannya sehingga desa dapat memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang di milikinya, menjadikan desa modern dan hampir mirip dengan perkotaan, masyarakat memiliki pencahariaan beragam, dan sarana-prasarana yang lebih maju, serta akses internet yang lebih mudah.

Kemudahan akses internet inilah yang selanjutnya menjadi peranan penting bagi perekonomian desa. Beberapa desa di Kabupaten Banyumas memanfaatkan internet sebagai sumber dari berbagai informasi dan kemajuan ekonomi. Namun sebelum jauh ke sana, terlebih dahulu kita menengok berbagai upaya demi memajukan desa masing-masing sebelum adanya dana desa.

Sebagai warga desa, ketika melihat perekomian terpuruk, pembangunan yang kurang merata, dan pendidikan yang kurang memadai membuat hati menjadi geram. Lalu berpikir bagaimana dengan anak cucu kita nanti, apakah akan terus seperti ini? kita hanya bisa ngedumel melalui perangkat desa, berharap aspirasinya dapat didengar pemerintah. Tentunya perangkat desapun berpikir keras mengenai berbagai persoalan di desanya. Lantas bagaimana cara mereka mensejahterakan warganya?

Memang pembangunan desa kala itu hanya staknan, tidak ada bantuan, bahkan untuk pemutaran uangpun dirasa sulit. Hal tersebut dirasakan ke seluruh urat nadi di desa. Merekapun harus rela melayangkan proposal ke berbagai tempat agar terealisasi pembangunan di desanya.

Dari kemandirian-kemandirian di masing-masing desa inilah muncul yang namanya GDM. Apa itu GDM? Mungkin saya adalah orang yang kurang tepat dalam menjawab pertanyaan ini karena masih banyak aktifis GDM yang lebih berpengalaman. Sedikit menjawab, dari kegiatan juguran GDM yang saya ikuti bersama perangkat desa dan aktivis GDM dengan dihadiri dari berbagai penjuru kabupaten Banyumas dan Purbalingga serta Cilacap, kemarin (22/4/2017) di Purwokerto (https://masbroh.id/juguran-gdm/).   GDM adalah singkatan dari Gerakan Desa Membangun. Fokus utamanya yaitu memanfaatkan teknologi. Fokus inilah yang kemudian lahir desa-desa yang mempunyai website dan sebagainya. Dari sinilah kemudian tumbuh peradaban-peradaban baru di masing-masing desa. Informasi yang cepat, transparansi yang tepat, dan transformasi yang berkelanjutan memberikan dampak positif dan respon yang kuat dari berbagai pihak baik nasional maupun internasional. Kolaborasi yang nyata demi tujuan di masing-masing desa membuat mereka semakin bersemangat, saling menguatkan, dan saling mengisi. Mereka meyakini bahwa desa itu harus berprestasi, harus kuat, dan harus membangun. Hal tersebut sudah terbukti dengan adanya beberapa desa yang melek IT, seperti desa Melung dan desa Beji di Kecamatan Kedung Banteng, desa Dermaji di Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan desa-desa lainnya.

http://Baca : http://www.infofajar.com/karang-taruna-kamandaka-12-habis-gelap-terbitlah-terang/

Melalui website inilah yang kemudian menjadi bomber ujung tombak segala informasi di desa. Merakapun menulis pengembangan visi tentang impian desa di website. Pola pengembangan ini dengan ditunjukannya master plan dari masing-masing desa, dengan begitu masyarakat dengan mudahnya menjadi lebih tahu.

Keberadaan website desa terbukti ampuh dalam melejitkan perkembangan desa. Pemberdayaan masyarakat setempat dapat teratasi dengan hadirnya internet. Selain itu keberadaan website mampu membuktikan branding desa sebagai desa melek IT. Kemudian mulailah tumbuh kemandirian ekonomi lokal setempat. Beberapa produk lokalpun dapat dipasarkan secara online melalui website desa. Hal ini dapat menarik pasaran dari dalam dan luar desa.

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa ternyata pertanyaan mengenai kesejahteraan warga desa, dapat diputar 360 derajat dengan kondisi yang ada sekarang ini. Kreativitas dan inovasi para perangkat desa memberi dampak positif terhadap warganya. Apalagi dengan hadirnya internet. Masyarakat kian dekat dengan desa dan dapat mengetahui kemajuan desa melalui website desa. Fungsi website inilah yang mampu membuat peradaban baru, dan mampu memajukan perekonomian desa setempat tanpa harus meninggalkan kearifan lokal.

Penulis : Fajar Pujianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *