Info Banyumas

Arah

ARAH

Oleh : Fajar Pujianto

 

Apa yang terjadi padaku belakangan ini. aku tak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Mata ini, hati ini, semua tak dapat berpadu. Sunyi, sepi menutupi penjuru singgasana jiwa. Gelap. Tidak dapat merongrong indahnya sukma. Di mana? Kemana? Arah itu tak dapat ku temukan lagi. Haruskah tembok ini menjadi sandaran disetiap malam?

“Arah, di mana kamu?” lantunan nada menyerua di bawah genting, persis ketika menikmati masa-masa indah berdua. Oh Arah, andai aku tidak terperosok pada rayuan gadis mungil itu. Mungkin saat ini kita sedang menikmati teh hangat berdua di atas kursi kayu, hasil pernikahan kita dulu.

“Lalu, di mana kamu, Arah!” suara itu semakin keras keluar dari hati dan pikiranku. Sialan. Cewek itu benar-benar sialan. Otot-otot tanganku semakin kekar. Ingin sekali memukul wajah gadis itu. Perempuan yang telah merusak hubungan rumah tanggaku dengan Arah. “Andai kau di depanku pasti sudah kupukul habis.”

Memang semua itu salahku. Arah tidak salah dan tak berdosa. Dia wanita baik, salehah, dan pastinya patuh pada suami.

Arah merupakan gadis yang ku idam-idamkan semenjak semester empat. Pertama kali bertemu adalah ketika sedang melaksanakan lomba tingkat Propinsi. Aku dan dia berbeda Universitas. Jadi kita saling bersaing. Kala itu aku sebagai juru bicara mewakili almamaterku. Diapun demikian. Ketika pemanggilan untuk maju, akupun sudah sangat siap. Berbekal materi yang sudah aku hafalin semalam.

Sang moderator menyuarakan pemanggilan Unversitas lain sebagai tim lawan. Aku sudah sangat siap, tidak ada gemetar sedikitpun. Namun, ketika peserta naik podium, ada yang berbeda. Hati ini, mata ini, dibuat tak berdaya olehnya. Cewek berbaris di tengah yang dihimpit dua rekannya dalam satu tim. Dia membuat detak jantung ini berdebug kencang. “Andre!” seru Aya menginjak kakiku. “Apa si yang kamu lihat!” pantas saja Aya berucap demikian. Aku sedari tadi berdiri diam tak bermakna. Gadis itu benar-benar membuat hati terlena. Maksud hati ingin sekali berkenalan dengannya dan mengajaknya menikah. Ahh, masih semester empat. Masih belum cukup umur. Hmm…setidaknya bisa ku jadikan pacar, anggap saja ta’arufan. Apakah aku hanya berkhayal? Ah, sepertinya tidak. Nanti pasti aku akan berkenalan dan meminta nomor telephonnya. Agar aku bisa menghubunginya dan bertemu kembali. “Andreee…..!!! semua penonton menghadapku. Suara Aya benar-benar menghapus lamunanku. Semua menertawaiku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Terkesipu malu.

 

“Arah.”

“Assalamu’alaikum Andre.”

“Wa’alaikum salam rah.”

Begitu acara usai aku langsung menghampirinya ketika akan keluar ruangan. Kupandangi ia dari ujung kaki hingga kepala, sungguh indah nian. Akan sangat berharap jika menjadikan ia calon istrinya kelak. Sifatnya, perlakuannya, religiusnya, hmm.. aku suka. Terlebih dengan hijabnya yang syar’i, semua terlihat sempurna.

“Maaf ya atas perlakuanku yang tadi, jadi semua menertawaiku,” ucapku menggaruk kepala.

“Ah, enggak apa-apa, itu kan kamu, bukan aku,” ucapnya tersenyum manja.

Ahh, itu semakin membuatku terperana. Kau membuat dunia khayalku kembali terbit. Suara itu, desahan suara yang aduhai dan senyuman manja yang membuat hati berbunga-bunga, seakan semuanya mencerua dalam alam bawah sadar. Angin yang sepoi-sepoi semakin menambah sejuknya suasana. Deru air hilir yang semakin deras, seakan mematikan kata-kata yang ingin keluar dari hati ini.

“Andre…” suara itu. Ya, aku sangat berharap suara itu kembali muncul.

“Andree….” benar saja Arah kembali memanggilku. Suara yang kunanti-nantikan.

“Buka mata kamu Ndre.” Hah! Yang ku lihat kali ini bukan Arah. Melainkan cewek mungil itu, Aya.

“Kamu dari tadi ngelamun apa si? Cewek itu?” hah, kok Aya tahu yang ku pikirkan, seperti peramal saja.

“Aku kurang apa?” tidak biasanya Aya berucap demikian. Padahal dia biasanya jaim dan jahil pula.

Aku menganggap Aya sudah seperti adikku sendiri. Lantaran ia sudah terlalu dekat semenjak SMA sampai kuliah. Kedekatan kamipun sudah dikenal banyak orang. Sampai-sampai kami pernah dijuluki suami-istri karena kemana-mana sering berdua. Kamipun sering mewakili almamater berdua. Sampai sekarang ini, hanya saja ada tambahan satu lagi, yaitu Ega.

Eh, ngomong-ngomong acara perlombaan hari ini, di mana orang yang berdiri persis di depanku tadi. Di mana gadis yang membuatku terperana dan ditertawai banyak orang. Duh, ternyata dia benar-benar sudah pergi. Padahal aku belum sempat meminta nomor telephonnya. Bagaimana aku bisa menghubunginya nanti. Duh..aku benar-benar menyesal, kenapa juga harus melamun. Di mana dia sekarang?

 

Suara jam beker berbunyi. Pertanda hari sudah pagi. Akupun harus mandi dan bersiap berangkat kerja. Kini aku hanya sendiri di rumah. Bapak dan ibuku telah tiada semenjak tiga tahun silam. Sebelum dan sesudah wisuda. Kali ini aku sudah menyandang gelar sarjana dan bekerja pada suatu perusahaan besar. Aku pun menempati salah satu bagian penting dalam perusahaan tersebut. Amanat yang diberikan kali ini tidak lepas dari peranan orang tuaku terdahulu. Mereka begitu gigih dalam memotivasi dan mendoakanku. Aku sangat berharap seperti kedua orangtuaku. Mereka sangat harmonis dalam berumah tangga. Tidak ada suatu permasalahan berarti dalam rumah. Harapan orang tua terhadapku sangat mulia, yaitu mempunyai istri salehah, baik, nurut sama suami, dan tentunya yang seiman. Tidak lupa juga, mereka selalu bilang agar aku menjadi orang sukses kelak dan dapat mengemban amanat dengan penuh tanggung jawab.

Pagi ini aku agak santai dan tidak terlalu terburu-buru. Sebab karyawan kantor sedang diliburkan. Hanya beberapa orang yang datang untuk piket. Kali ini aku memakai mobil Avanza yang ku beli beberapa bulan yang lalu. Hasil kerja kerasku sendiri. Suara lalu lalang kendaraan di kota ini semakin membuatku tidak nyaman. Alhasil kuputar musik kesukaanku, Sheila on 7.

“Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu …” Sambil menikmati lirik lagunya yang indah, sesekali menirukan walau dengan nada tak beraturan. Sesekali melirik kekanan dan kiri karena semrawutnya kendaraan. Terlihat sesosok wanita di pinggir jalan, sepertinya sedang menunggu angkot. “Hijabnya,” iya itu seperti Arah. Ya Arah. Namun laju mobilku sudah di depan, melebihi gadis itu. Aku pun memberhentikan mobilku di pinggir jalan. Setelah berhenti, aku berlari menuju arahnya. Naas, dia sudah terlanjur naik angkot. Akupun kembali naik mobil dan membelakangi angkot tersebut. Tidak dapat disangka dan tidak dapat diduga. Dia berhenti tepat di depan kantor sebelah kantor tempatku bekerja. Langsung saja, mobil saya berhentikan. Dan aku, kembali berlari mengejarnya.

“Assalamu’alaikum A..a..arah.”

“Wa’alaikum salam Andre.”

Siup-siup angin. Rintik-rintik berjatuhan bunga-bunga keharmonisan. Lantunan musik alam semakin membungkam kebersamaan. Seakan terbuai dalam pertemuan. Seperti merajut kembali senar yang telah patah. Bahagia menyeruati berdua. Indah nian.

“Kau bekerja di sini Ndre?” suaranya masih seperti dulu. Lembut dan ah..semakin membuatku tak berdaya.

“Ndre.”

“I..ii..iya, eh engga kok. Aku bekerja di kantor sebelah,” nada suaraku semakin terpatah-patah. Melihatnya pun aku gerogi, apalagi jika bersanding dengannya.

 

Usai pertemuan itu, kamipun menjadi sering bertemu. Akhirnya kami sama-sama mempunyai tekad untuk menikah. Pernikahan kamipun berlangsung cukup meriah. Dengan dihadiri teman-teman semasa kuliah terdahulu. Terkecuali bagi Aya. Dia tidak hadir dalam acara tersebut lantaran sakit.

Usai pernikahan, kamipun hidup berdua di dalam rumah tinggalan orangtuaku. Kamipun sangat bahagia hidup bersama. Terlebih jika kami menyeduh teh di meja depan. Kebersamaan ini seakan menjadi sangat berarti. Pasalnya pertemuan pertama hanya berakhir sebuah pertanyaan dan kegelisahan. Namun setelah sekian lama, sekian tahun barulah bertemu dan akhirnya hidup bersama.

Hari itu, hari Sabtu. Arah ada acara keluarga di rumah orangtuanya. Sementara Andre harus piket di kantor. Iapun bergegas untuk mengantarkan istri tercintanya. Pagi itu tidak terlihat seperti biasanya. Andre agak tergesa-gesa dalam persiapan sebelum pemberangkatan. Ia pun segera memanaskan mobilnya. Tidak lama kemudian seluruh barang sudah dimasukkan ke mobil dan siap untuk berangkat.

“Ayo Rah, berangkat,” ajakku mengkalkson mobil.

“Sebentar yah,” ucapnya dibalik pintu.

Mereka segera berangkat ke rumah orang tuanya. Sesampainya di sana, Andre langsung cabut gas dan langsung berangkat ke kantor. Namun di tengah perjalanan, ia melihat Aya yang sedang menunggu angkot. Kali ini dia tidak diantar oleh Ega, yang sekarang menjadi pacarnya.

“Aya, ayo ikut,” ajakku sembari membuka pintu mobil sebelah kiri.

“Makasih bos Andre, atas tumpangannya.”

“Ah..biasa saja.”

“Si bos makin keren aja nih.”

“Ah, kau juga makin cantik Ay, tambah mungil lagi, hehe.”

“Ah si bos ini pandai merayu deh.”

Aku kembali melaju mobilku. Seperti biasa lalu lalang laju kendaraan yang semakin semrawut membuatnya tak nyaman. Masih seperti dulu, lagu Sheila On 7 kembali diputar. Kali ini berjudul ‘Mari Bercinta’. “Kau masih suka lagu ini Ndre?” masih seperti dulu, akupun menyukai seluruh lagu grup band yang satu ini. “Iya Ay,” jawabku singkat, karena aku sembari menirukan lirik lagunya.

Belum sampai kantor, Arah menelephon. Dia mengatakan bahwa dompetnya ketinggalan dan menyuruhnya untuk mengambil. Akupun segera putar arah dan kembali ke rumah. Saat aku masuk rumah, Ayapun ikut masuk. Dia hanya duduk di kursi tamu, sementara aku keluar-masuk kamar dan mencari dompet ke sana-kemari tidak ketemu-temu.

“Kenapa Ndre?”

“Belum ketemu dompetnya Ay.”

Saat mencari bersama-sama, aku tidak sengaja memegang tangannya. Yaitu saat sama-sama mencari di balik almari pakaian. Saat itulah tangan kiriku memegang tangan kanannya, dan kitapun saling berpandangan. Raut mukanya kian dekat mengadapku. Hembusan nafasnya terdengar risih di telinga. Aku tak dapat mengabaikannya. Hembusan nafas itu kian dalam dan ah, aku tak tahu dengan diriku saat itu.

Perasaan Arah kian was-was, karena Andre terlihat lama dalam mengambil dompet. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang. Dia diantar oleh adiknya. Sesampainya di rumah, Arah melihat ada tas wanita di meja tamu. Ya, itu tas Aya yang ditinggal di situ. Sontak saja perasaan Arah semakin tak jelas. Dia merasa ada yang ganjil di rumahnya dan juga pada suaminya. Tak berpikir lama, Arah langsung menuju kamar tidur, tempat ia dan suami beristirahat.

“Astaghfirulloh, Andre!”

“Apa yang kau lakukan!” bentak Arah dengan diiringi derai air mata.

Dia tidak menyangka suaminya bakal bejat seperti itu.

“Arah, maafkan aku, aku tidak bermaksud.”

“Arrggghhttttt….”

“Ceraikan aku sekarang juga!” Arah tidak dapat menahan diri. Diapun langsung pergi begitu saja dengan membawa seribu penyesalan dan kepedihan.

Sementara Aya, iya tak dapat mengerti harus bagaimana. Pasalnya selama ini iya mencintai Andre, sementara Andre tidak demikian. Aya sudah menikmati cinta Andre walau hanya sekejap.

“Aku bingung harus bagaimana. Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa kamu di sini. Hay Aya. Kenapa kamu lakukan ini terhadapku. Arrggghhhtttt……”

“Enggak tahu Ndre, Aya akan bilang sama orangtua Aya. Apa yang sebernya terjadi pada Aya. Aya nggak ingin anak ini bila lahir tanpa seorang ayah.”

“Ndre, kamu harus tanggung jawab.”

Tidak lama kemudian, Aya bergegas meninggalkanku. Aku bingung harus bagaimana. Aku hanya duduk bersenderan tembok. Bingung apa yang harus ku lakukan. Apakah Arah akan benar-benar meminta cerai. Ataukah Aya akan kembali dan meminta aku menikah dengannya.

Aku benar-benar menyesal atas perbuatan bejatku ini. Aku hanya terbawa nafsu sementara. “Arggh..setan kenapa kau merayuku melakukan perbuatan hina ini!”. Bayangan hidup bersama Arah kini hancurlah sudah.

“Tuhan, ampunilah segala dosa-dosa hamba. Jauhilah hamba dari godaan setan-setan terkutuk.”

 

 

 

 

 

 

Penulis :

 

Fajar Pujianto,

Pegiat literasi dari Banyumas yang sedang latihan membuat cerita pendek. Saat ini menjadi pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Anfat di desa Babakan Kecmatan Karanglewas dan menjadi tenaga kependidikan di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari Kecamatan Cilongok. Tinggal di RT 01 RW 07 desa Babakan Kecamatan Karanglewas kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Nomor HP : 081329751684. Email : fajar.andenkandenk@gmail.com.  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *