Info Banyumas

BOHONG YANG JUJUR

Apakah anda bingung dengan judul di atas? Haha semoga tidak demikian. Dalam diri mungkin bertanya : “maksudnya apa ini!”.

Sebenarnya tidak ada apa-apa si, kali ini saya hanya akan bercerita tentang ‘bohong yang jujur’. Mengapa demikian? Ini merupakan kisah pengalaman saya, “ciaa!” haha.

Ya, melalui pengalaman yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Kala itu saya masih jadi seorang sales dan tukang kredit.

“Mas Fajar pernah jadi sales dan tukang kredit?” semoga tidak ada yang bertanya demikian.

Saya pernah mengalaminya selama tiga tahun. Pekerjaan yang tidak mudah dan penuh dengan resiko. Memang si semua pekerjaan ada resikonya, tetapi yang ini memang lebih banyak ketimbang pekerjaan lain yang pernah saya jalani.

Ketika itu saya sedang menawarkan barang dagangan ke rumah-rumah warga. Sebagai seorang yang menawarkan barang, tentunya mulut kita tidak boleh diam dong.

“Sewu, sewu, sewu, sewu!”

“Murah, murah, murah, murah!” begitu kata-kata yang saya ucapkan sepanjang perjalanan dengan ditemani barang bawaan di jok motor bagian belakang.

Sebagai seorang sales, tukang kredit, dan sebagainya memang ditekankan supaya tidak mempuyai rasa malu terhadap sesama selagi baik. Pasalnya kalau malu-malu, siapa yang mau minat? Mungkin ada tapi tidak terlalu banyak.

Lantang saja, ketika ada segerombolan ibu-ibu yang sedang bersantai ria di depan rumah salah satu warga, saya langsung mengeluarkan kata-kata demikian.

Sayapun mengambil beberapa barang bawaanku dan menyodorkannya kepada ibu-ibu tadi.

“Ayo bu, murah-murah, seribu-seribu.”

“Ayo dong bu, ambil yang ini dapat bonus loo,” ucapku menyodorkan pakaian.

“Bonusnya apa mas?” tanya seorang ibu.

“Penjualnya.”

Semua tersenyum dan tertawa lebar.

Perbincanganpun berlanjut, ibu-ibu mulai melihat barang yang saya bawa. Saya pun membuka box [saya lebih sering mengucapnya ‘keronjot’] yang berada di jok motor paling belakang.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu.

“Seribu, murahkan?” jawabku.

“Yang ini berapa mas?” tanya seorang ibu lagi.

“Yang itu dua ribu. Ayo bu diambil,” perintahku balik.

Semua mengambil barang bawaan yang saya bawa. Semua merasa senang dan bahagia. Karena bisa membawa pakaian, wajan, bantal, dan kebutuhan rumah tangga yang lain dengan harga yang sangat murah.

Kenapa begitu murahnya? Padahal itu barang masih baru loo. Penasarankan?

Begini ceritanya. Disitulah mulai ada permaian kata. Yang tadi saya ucapkan kata-kata seribu, setelah di tempat kerumunan ibu-ibu sudah ada berapa kata seribu yang saya ucapkan? Haha tidak sedikitkan. Ditambah lagi dengan kata seribu yang diucapkan bergantian, ada berapa coba. Haha, disitulah letak permainannya.

Apakah saya berbohong?

“Jadi begini bu, seribu itu dicicil setiap hari selama 28 kali. Nah yang dua ribu tadi juga sama, dicicil selama 28 kali,” jelasku kepada mereka.

Setelah dijelaskan ternyata dengan [mungkin tidak] terpaksa mereka akhirnya tetap saja mengambil.

Dengan sedikit cerita pengalaman di atas, saya mencoba agar tetap jujur walau dalam keadaan barang tidak lsaya sekalipun. Yaitu dengan pola permainan kata-kata, yang penting tidak sampai berbuat curang dan berbohong. Karena sesunggungnya berbohong itu perbuatan tercela, jujur itu perbuatan terpuji [anak TK pun tahu, hehe].

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *