Info Luvy

Dana Desa untuk Taman Baca

Belum lama ini, saya melihat teman pegiat literasi di media sosial facebook, yang kerap mengunggah kegiatannya bersama TPID. Beberapa kali saya pantau tentang taman bacanya yang dijadikan inovasi pada
sebuah desa di Provinsi Jawa Tengah.

Mungkin baginya adalah sebuah prestasi yang mencolok, karena jarang ada inovasi dari taman baca. Seteah dirasa cukup untuk dipantau, lalu aku bertanya pada orang tersebut, “Bro… keren , ya. Hebat pancen. Itu dana bersumber dari mana?” jawabannya cukup menggembirakan, “dari kantong sendiri, bro.” Oke fiks, memang benar, para penggiat taman baca, rerata mengeluarkan uang sendiri untuk modal mendirikan dan mengelola.

Aku semakin penasaran dan bertanya beberapa hal. Hingga pertanyaan terakhir yang dia balas hanya 2 kata, “Kedepan aka nada dana desa yang diterima tidak?” dan jawabannya cukup menggembirakan, “ada, mas.” Alhamdulillah, aku cukup bersuka cita.

Baca Juga : https://www.infofajar.com/tidak-berat-begini-tugas-kader-pembangunan-manusia/

Tersebab ketika sebuah inovasi yang menjadi andalan dari desa tersebut, namun dari pihak pemerintah desa sendiri tidak menggelontorkan secuil pun dana desa untuknya, maka kurang logis. jika menelisik tujuan pemerintah melelaui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menggelontorkan dana desa sebesar Rp257 triliun pada tahun sebelumnya, dan lima tahun kedepan menjadi Rp400 triliuan, bukan hanya untuk infrastruktur melainkan juga pemberdayaan manusia dan pemberdayaan ekonomi desa.  

Bahkan menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, yang inovasinya bagus sekarang dana desanya atau BUMDesnya membayar pajak lebih besar dari dana desanya. Bersama bank dunia ada program bursa inovasi desa, Kemendesa menyediakan fasilitator untuk masyarakat supaya ide-idenya bisa tergali keluar sehingga dana desanya bisa berinovasi. Hal tersebut disampaikannya saat acara Workshop Pengawasan Program Inovasi Desa (PID), Kamis (4/7) di Hotel Sultan Jakarta, seperti dilansir dari kemendesa.go.id.

Salah satu ujud dari pemberdayaan manusia salah satunya dari taman baca. Beberapa kegiatan di dalamnya mengarah pada pemberdayaan masyarakat, baik melalui pendidikan membaca, menulis, bermain, berkerajinan, dan lain sebagainya. Banyak inovasi yang dilahirkan dari pegiat taman baca tersebut.

Jika diakuisisi menjadi hak milik desa, maka desa tersebut harus berani menggelontorkan dana desa untuk kegiatan atau pun operasional taman baca. Dana desa juga sangat dianjurkan penggunaannya untuk perpustakaan desa atau pun taman bacaan masyarakat (TBM).

Jika desa belum mempunyai ruangan untuk dijadikan pusat taman baca atau perpustakaan, maka desa boleh mengeluarkan dananya untuk pembelian buku dan operasional penggeraknya. Sebagai contoh begini; di desa A belum mempunyai ruang perpustakaan, namun ingin mempunyainya , sementara anggaran hanya sedikit. Maka desa tersebut bisa menggelontorkan sebagian dana desa untuk operasional atau pembelian motor untuk berkeliling dan beberapa buku.

Dengan demikian, walau pun dengan dana yang sedikit,namun kegiatan taman baca tetap berjalan, yaitu dengan perpustakaan keliling. Sangat dianjurkan dengan adanya kegiatan tersebut dan sangat bermanfaat untuk masyarakat luas, karena bisa menyambangi sampai pelosok dusun.

Harapannya dengan adanya dana desa selain untuk pembangunan, juga dapat dimanfaatkan oleh warganya dengan inovasi yang disajikan masyarakat. Tentunya dengan sistem dan tata cara yang telah ada, yaitu melalui musdus, musdes, musrenbangdes, dan sebagainya. (Fajar Pujianto)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *