Info Luvy

Melalui Menulis, Gadis ini Gelorakan Feminisme

Anggun, cantik, sederhana, dan cerdas. Begitulah gambaran yang dimiliki oleh Lianna Putri Sri Musniawati. Gadis kelahiran Kota Semarang ini kerap menggegerkan dunia kesusastraan Indonesia. Bagaimana tidak, beberapa karyanya yang termaktub di media dan beberapa buku antologi sempat menjadi pembicaraan publik. Gagasan dan kata-kata yang cenderung bebas membuat pembaca mengerutkan dahi. Bukan hanya itu, beberapa esainya pun mengerucut pada feminisme masa kini. Hal tersebut tentu saja membuat beberapa masyarakat urung membahasnya.

Saat ditemui disela-sela acara Semarang Literary Festival, Minggu (28/7/2019) di kawasan Kota Lama Semarang, dia membeberkan jika kata-kata yang keluar dari penanya merupakan hasil mengamati, baik dari media, buku, atau dari kejadian di depan matanya. Selain itu, keasyikan membaca buku filsafat dan buku kiri lainnya membuatnya semakin berani berpikir logis sesuai akal secara mandiri.

Baca Juga : https://www.infofajar.com/tidak-berat-begini-tugas-kader-pembangunan-manusia/

“Sebenarnya kalau menulis itu, ya, sudah dipikir masak-masak. Mencari dulu sumbernya, baca buku, dan bahkan kejadian yang dialami teman atau kusaksikan sendiri di depan mata. Jadi tidak serta merta menulis dengan asal, karena karya yang bagus bukan hanya dinikmati untuk saat ini saja, melainkan juga untuk generasi mendatang,” tutur gadis yang kerap disapa Lianna tersebut.

“Membaca bisa apa saja, namun saya kerap membaca buku-buku filsafat maupun buku-buku sastra dan yang lainnya, karena membaca itu penting. Jadi ketika mau menulis tentang feminisme, otomatis harus membaca terlebih dulu. Untuk menulisnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan waktu untuk bekerja dan juga agar karya yang dihasilkan benar-benar bisa dinikmati pembaca,” lanjutnya.

Lianna saat di Purwokerto (Dok. Lianna)

Melihat dari gelagat manusia saat ini, terutama kaum hawa, Lianna menjadi dirundung kekhawatiran. Banyak wanita yang terjebak dalam dunia perbudakan, baik dari segi pemikiran maupun perlakuan. Perbudakan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena persoalan napsu bejat para pria hidung belang. Selain itu juga karena banyak wanita yang terpaksa menghuni sebuah rumah tanpa memperoleh hak kebebasan untuk berpikir. Beberapa wanita bahkan memutuskanbercita-cita setelah sekolah, lalu kuliah, dan setelah itu menikah lalu menjadi ibu rumah tangga. “Memangtidak salah, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Akan tetapi apabilasiklus perputaran hidup para perempuanterus-terusancumabegitu saja, lalu untuk apa perempuan kuliah? Jika dengan tidak kuliah pun mereka bisa melakukan hal yang sama,” geramnya.

Jika hanya menyurakan feminisme melalui media, dengan mengadakan longmarch, mengadakan forum, menurut Lianna hanya membuang-buang waktu saja. “Toh, kita bisa melalukan hal lain yang lebih bermanfaat.  Feminisme itu ya bukan sekadar perempuan menggerombol membentuk gerakan serta kelompok-kelompok sendiri khusus perempuan saja, akan tetapi bisa saling bahu-membahu juga bersama kaum lelaki untuk membangun negeri ini. Jadi yang dimaksud adalah laki-laki dan perempuan itu mempunyai hak yang sama untuk berbuat dan berkarya sesuai dengan pemikiran masing-masing dan tidak ada batasan atau larangan selagi hal tersebut tidak menyimpang dari akal sehat,” pungkas dia.(Fajar Pujianto)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *