Info Banyumas

Om Telolet Om

“OM TELOLET OM,” seru Taufik dan teman-teman.

Taufik dan teman-teman terbiasa mengisi waktu sore di pinggir jalan. Begitu bus antar propinsi melintas, mereka berteriak kegirangan.

“Taufik siap-siap ada bus lagi,” seru Ismail.

Ismail yang sedari tadi memegang kardus. Kardus itu bertuliskan, “OM TELOLET OM”. Dia dengan sengaja membuat tulisan itu. Setiap sore kardus itu selalu di bawa.

“TELOLELOLETT…” bunyi klakson dari bus.

“Hore!” teriak mereka kegirangan.

Mereka sengaja meluangkan waktu seperempat sampai setengah jam. Mereka menikmati dahsyatnya suara bus antar propinsi. Rumah mereka juga tidak jauh dari jalan raya.

Tidak lama kemudian, mereka menuntaskan petualangannya.

“Taufik, ayo kita pulang,” sapa Ismail.

“Ayo teman-teman,” balasnya.

Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Taufik membersihkan badan.

Dia langsung belajar. Membuka buku pelajaran kesukaan. Matematika. Tidak lama berselang, bapaknya datang menghampiri. Dia duduk di sebelah kanannya.

“Nak, kamu tahu hari ini, hari apa?” tanya Suherman, orangtua Taufik.

“Tahu pak, ada apa pak?” ucapnya balik.

“Kamu masih suka telolet itu?” tanyanya lagi.

“Masih pak, malahan tadi habis nyari pak,” jawab Taufik.

“Bapak mau kasih sesuatu, tapi kamu harus janji!” kata bapak sambil menatap anaknya.

Taufik tidak langsung menjawab. Dia berfikiran bahwa, ayahnya akan marah. Namun, tidak seperti bayangan Taufik. Dia malah tersenyum.

“Kenapa nak, kok menatap bapak seperti itu?” tanyanya.

“Tidak apa-apa pak,” jawab Taufik.

“Nak, di jalan itu berbahaya. Kalau terjadi apa-apa siapa yang mau bertanggungjawab?” ucapnya seru.

Perkataan itu membuat Taufik menghembuskan nafas dalam-dalam. Dia menundukan kepalanya. Dia merasa bersalah. Dia sadar. Di jalanan memang berbahaya. Apalagi bagi seumuran mereka.

“Ya pak, saya mengerti,” jelasnya.

“Nak, ini sebagai gantinya. Ini juga sebagai hadiah ulang tahun yang ke 7. Bapak baru sempat memberikannya.” Ucap bapak sambil memberikan mainan kesukaannya.

“Alhamdulillah, terimakasih pak,” hela Taufik.

“Tapi janji, setelah ini, kamu hati-hati, di jalanan itu berr..”ucapnya setengah.

“bahaya!” balas Taufik cepat.

Usai diberikan hadih ulang tahun, bus mainan. Taufik tidak lagi bermain di pinggir jalan. Dia sangat senang dengan mainan itu. Teman-teman yang setiap hari menyambangi Taufik, kini bermain bersama. Mereka bermain di halaman rumah. Sampai-sampai bus mainannya ditulis “OM TELOLET OM”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *