Info Luvy

Sebuah Seni untuk Bersikap Peduli Amat

Sebagai seorang yang suka bepergian, aku kerap menikmati perjalanan. Namun perjalananku masih lingkup Jawa Tengah – DI Yogyakarta. Aku belum beranjak dari wilayah tersebut lantaran masih belum puas menikmati keindahan di kedua provinsi tersebut.

Suatu ketika, aku melakukan perjalan pulang ke Purwokerto usai dari Semarang, tepatnya setelah berkencan dengan pacarku. Perjalanan tersebut menggunakan travel yang biasa kupesan, kali ini dengan sopir yang berbeda.

Aku duduk paling belakang dan merasakan kenyamanan karena duduk sendirian. Orang yang duduk paling depan, terlihat asyik mengobrol dengan sang driver. Sementara yang di tengah, asyik mengobrol dengan handphonenya masing-masing, yang sebelah kiri sambil telephon dan sebelah kanan asyik chatingan. Dari kedua orang yang bersebelahan tersebut, nampak jelas bahwa perbedaan derajat di situ ada. Yang sebelah kiri terlihat, bahwa dia terkesan kolot, sementara yang sebelah kanan, nampak berpendidikan.

Aku duduk paling belakang sembari mengamati orang-orang di depanku. Setalah itu, aku melai membaca buku, dengan sebuah seni bersikap bodoh amatnya Mark. Sesekali aku membuka handphoneku untuk mwngabari sang kekasih sudah sampai mana perjalananku.

Perjalanan berhenti sejenak di Temanggung, tepatnya di rumah penumpang yang paling depan dan belakang driver, 2 orang. Ternyata benar pradugaku, mereka adalah orang berpendidikan, terlihat dari rumahnya yang terlihat mewah dan gaya bicaranya yang banyak berisi. Hingga mereka menikmati jeruk hasil metik di depan rumah, aku masih saja menikmati karya Mark di pojokan.

“Mas, la kok betah Ning mburi,” tanya wanita separoh baya itu.
“Hooh mba, la wis pewe ngene ki kok,” jawabku tersenyum.
“Ki mas jeruke.”
“Njih mba, matur nuwun.”

Sebagai bagian penghormatan, aku memakan jeruk kuning tersebut, rasanya kecut, bikin meringis mendadak. Lantas aku menelephon kekasihku, namun tak diangkat karena baru saja pulang kerja dan sedang beberes di belakang, sementara handphone tidak dibawa.

Namun setelah aku berpindah ke depan, menggantikan posisi ibu yang turun tersebut, aku ditanya mau telephon atau tidak, lantas kau membalasnya tidak, karena tidak enak dengan penumpang yang lain.

Tiba di Kabupaten Banjarnegara, penumpang tinggal 2 orang, aku dan orang yang terlihat kolot tadi. Aku dan driver terus mengobrol dan aku menceritakan tentang kehupanku, hingga berpacaran dengan orang Semarang. Lantas dia mengamini untuk hubungan kami sesuai dengan yg diinginkan.

Magrib telah berlalu, perjalanan di Banjarnegara telah sampai di kota, orang tersebut terus kami tanya, “masih jauh apa dekat?” Orang tersebut hanya menjawab, katanya masih jauh.

Berulang kali kami menanyakan lokasi rumahnya, masih jauh apa sudah dekat, dia selalu bilang, katanya masih jauh. Dalam batinku aku berucap, “la ini sudah hampir perbatasan kok ya blm saja bilang sampai.”

Kata orang tersebut, dia biasa berhenti di Pasar Wage Banjarnegara. Lantas ditanya lagi, masih jauh apa dekat, katanya, masih jauh.

Perkataan dia sudah tidak bisa diandalkan lagi. Setelah sampai perbatasan Banjarnegara- Purbalingga, dia kami tanyakan, “sebenarnya mbaknya mau kemana? Ini selangkah lagi, ini sudah Purbalingga.”

Barulah mbak itu ngomong, “la aku ya ora ngerti nek Kye wis neng Purbalingga. Nyong biasane mudun neng Pasar Wage. Pak sopir ya ora ngerti.”

Aku sebagai warga Ngapak merasa malu melihat orang seperti ini. Keras kepala namun kolot. Tidak mau mengalah dan tidak mau tahu. Dengan alasan yang tidak logis.

Mbatibku, sial bener aku dikerjai sama orang satu ini. Jelas tidak lama lagi aku sampai di Purwokerto dan bisa istirahat. Ini malah harus mengantar orang yang gak jelas gini.

Lantas aku menyuruhnya untuk membuka maps, namun sama sekali tidak dilakukan. Malahan dia asyik bertelepon. Setelah kulihat handphonenya ternyata tidak memakai internet, hanya handphone biasa. Namun yang membuatku geleng-geleng kepala adalah saat dia telephon dengan seseorang yang katanya tadinya bapaknya, lantas kakaknya, ganti lagi temannya, begitu sepanjang perjalanan. Bahasa yang digunakannya adalah Bahasa Indonesia alay, begitulah aku menyebutnya untuk orang-orang perantauan yang berlagak kekotaan.

Aku membuka google maps di handphoneku, dan kami memutar balik menuju ke Kota Banjarnegara. Perjalanan kami kebut, hingga sampai di depan pasar Wage sekitar setengah jam.

Kami menanyakan kepada orangnya, “Mbak ini sudah di depan pasar Wage, yang njemput di mana, mbak?”
“Biasane aku mudune ora neng kene koh, Deng kiye neng kene.”
“Lo, ini di depan pasar Wage mba,” aku mulai gumam.
“Tapi bisanya di atas ada tulisan Bank Surya Yudha, ada pohon pohonnya,” dia makin ngotot.
“Ini Lo mba, kita sudah sesuai maps. Sebentar pak supir, aku turun dulu, kutanyakan ke orang,” aku menuju kios pulsa untuk bertanya.

Ternyata benar, ini tempatnya, tapi mbaknya belum mau mengalah dan tetap bersikukuh.

Dan kami menuju ke sebelah timur lampu merah, tepatnya di depan Kantor Pengadilan, kami menunggu orang yang menjemput yang katanya kakaknya. Namun tak urung dijemput. Berkali ditelepon namun yang menjemputnya ini juga tidak tahu lokasinya.

Dalam benak kami, apa ya tidak tanya ke orang. Mereka hanya teleponan, tapi tidak mencari. Kami menunggu hingga hampir setengah jam.

Kami memutuskan untuk pergi ke Bank Surya Yudha pusat. Kami menunggu di depan toko Surya sudha. Naas, orang yang menjemputpun tidak tahu Surya Yudha itu dimana, jelas jelas, Surya Yudha sudah terkenal seantero Nusantara, namun orang lokal malah belum mengetahuinya.

Waktu semakin malam, aku menunjukan kepada mbaknya, kalau di Banjarnegara ada 2 pasar Wage. Pertama di kota, kedua pasar Wage Beji, yakni di pedesaan. Lantas aku menanyakan, kalau pasar Wage tersebut di desa, dianya mengiyakan. Namun sepenuhnya kami tidak terlalu percaya lagi pada orang yang bisa dibilang katrok tersebut.

Setelah menunggu sang penjemput tersebut, lantas kami menuju pasar Wage yang di kota. Aku berkali turun dari mobil untuk menanyakan kepada orang-orang tentang keberadaan pasar Wage tersebut.

Setelah sampai di depan pasar Wage, dan…. Ternyata pasar tersebut adalah yang kami berhenti tadi. Persis di depannya. Kami berhenti di situ sampai benar-benar orang yang menjemput tiba di lokasi. Aku menelepon orang tersebut untuk segera ke sebelah barat lampu merah. Tidak lama berselang orang tersebut datang.

Kami menggeleng geleng kepala, ada ya orang semacam ini, di tempat sendiri aja tidak tahu. Aku memaklumi dia sebagai orang desa, persis sepertiku, hanya saja ketika tidak tahu jangan sungkan untuk bertanya, setidaknya jangan sok tahu.

Aku malu terhadap diriku sendiri yang notabennya adalah orang desa, dan kami masih serumpun, Ngapak. Aku merasa bahwa mukaku seperti diinjak-injak oleh perlakuan kolot orangku sendiri yang masih satu eks-karesidenan Banyumas.

Sepanjang perjalanan ke Purwokerto, aku dan driver tertawa terpingkal. Hingga kami merasa lapar, tepat jam 22.30. Kami mencari bakul nasi goreng, tapi tak kunjung ketemu. Hingga sejauh 15km baru menemukannya, nasi goreng dengan bumbu yang sangat lengkap dan rasa yang sangat berbeda juga harga yang sangat murah. Kami bersyukur atas ini, mungkin inilah rezeki untuk kami di malam itu setelah 3 jam menunggu dan muter-muter Banjarnegara demi mengantar orang yang tidak paham tempat sendiri.

Aku sampai di Purwokerto jam setengah 12. Aku hanya diperbolehkan membayar 100 ribu saja, aku menolaknya, harus sesuai dengan tarif biasa, karena aku tidak ingin bapaknya merugi. Tetapi bapak driver tersebut menolaknya. Dia berkata sudah aku sudah banyak membantunya. Ya sudah jika demikian aku sangat berterima kasih, dan telah mendapat pelajaran berharga di hari ini.

Sewaktu di perjalanan pak driver menanyakan kepribadian orang tersebut, aku hanya mendengarnya. Sesekali pak driver menggoda wanita kolot tersebut. Jika sampai tahap itu, hanya hanya bermain handphone dan ngechat kekasihku.

Ternyata dibalik itu adalah wanita tersebut sudah berpisah dengan suaminya. Lantaran suaminya main fisik alias keras.

Dalam hatiku berkata, “ya wajar saja jika suami keras, lah kamunya aja sulit diatur, atas kemauan sendiri, tidak logis, bagaimana mau bertahan, pikir dong!”

Ini semakin menambah rentetan orang-orang yang kubenci, setelah para lelaki yang kini sudah berbaik hati. Namun para janda muda saat ini menjadi daftar orang-orang yang kubenci. Kebencianku semakin nista jika mereka banyak menggoda lelaki dan tidak mempertahankan rumah tangganya, yang jelas-jelas semasa pacaran saling menyayangi buktinya mau dinikahi. Tetapi dicampakkan begitu saja jika sudah tidak mempunyai selera jika derajat sudah naik sedikit saja.

Aku hanya berpesan bahwa, jadilah orang yang setidaknya mempunyai wawasan, entah dari pengalaman atau pun dari membaca buku. Tidak apa jika tidak bersekolah, asalkan mau belajar. Dan yang pasti tidaklah ngotot, kolot, dan sok ngerti. (Fajar Pujianto)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *